DALAM ilmu ekonomi, kebutuhan manusia dikelompokkan kepada tiga; Primer (paling utama, seperti kebutuhan makan, pakaian, rumah, de el el); Sekunder (pendukung aktivitas hidup, seperti sepeda motor untuk transportasi, handphone untuk alat komunikasi, de el el); dan, Tersier (pelengkap hidup, sifatnya untuk bermewah-mewah, seperti perhiasan, perabotan rumah, de el el).
Akan tetapi, dalam keseharian masyarakat di era milenial ini --era dilan dan milea-- kebutuhan manusia tidak lagi terpatok kepada tiga hal tersebut (primer, sekunder dan "tersier*) saja, melainkan sudah bertambah satu lagi, yaitu kebutuhan untuk charger.
Ya, charger menjadi kebutuhan manusia di era dewasa ini. Kebutuhan yang satu ini dipahami sebagai kebutuhan akan sumber daya listrik. Jadi manusia yang hidup di era milea ini memang sangat terdependensi dengan sumber daya listrik (charger).
Lihat saja, di banyak tempat, charger menjadi satu kebutuhan penting lainnya yang selalu di bawa dan dicari, bahkan ada banyak manusia merasa gundah jika lupa atau jauh darinya.
Karena itu tak mengherankan juga, jika kita duduk di sebuah warung kopi --bahkan warung kopi biasa sekalipun, maka kita jumpai akan ada banyak manusia-manusia yang tidak bisa jauh dari kebutuhan charger.
Tentunya kita tidak sanggup membayangkan jika seandainya segala yang berhubungan dengan charger ini dibatasi atau dihambat oleh kelompok lain yang memiliki kuasa yang lebih semisal pemerintah. #nyanban