SETIAP Manusia pasti memiliki kekurangan. Karena kesempurnaan hanyalah milik Sang Pencipta, Allah Swt. Namun, tak sepantasnya kekurangan tersebut kita rutuki, dan menjadi sekatan tinggi untuk berkarya. Lihatlah beliau! Meski tanpa kedua tangan dan kaki, masih tetap gigih berjuang, guna meraih masa depan.
Terlahir sebagai tunadaksa, tak membuat Achmad Zukarnain patah semangat. Lelaki yang berasal dari Kota Banyuwangi, Jawa Timur ini tetap berkarya, meski sebagian orang memandangnya dengan sebelah mata. Berawal dari sebagai tukang potret KTP, lelaki yang akrab dipanggil Bang Dzoel ini, berani menatap masa depan. Mengikis segala kekurangan.
Menjadi yang terbaik, tidak harus sempurna.
Perihnya kehidupan, membuat lelaki kelahiran 7 Oktober, 25 tahun silam ini semakin tangguh. Bahkan, ia sempat hendak dibuang oleh keluarganya, lantaran kelainan yang ia miliki sejak lahir. Ketika duduk di bangku sekolah ia kerap menjadi bahan olokan dan djauhi teman-temannya, karena fisik yang ia miliki, dan tidak bisa ikut kegiatan olahraga.
Butuh proses yang panjang yang harus ia jalani, serta tahan banting dari segala cemooh dan komentar-komentar orang, hingga sekarang ia berhasil menjadi seorang fotographer handal. Beliau pernah mendapat proyek memotret Marshanda, dan bintang film Ada Apa dengan CintaDian Sastro. Demi mengasah potensi di bidang yang ia gemari, Bang Dzoel, rela hijrah ke Ibu Kota untuk bertemu ahli fotographi Darwis Triadi.
Jalan hidup selalu berliku-liku. Menanjak lalu menurun> Bergelombang. Berkelak-kelok, hingga akhirnya berujung pada puncak kesuksesan.
Dengan kekurangannya, Bang Dzoel memiliki cara sendiri sebagai solusi, Ia mengoperasikan tombol kamera on-off dengan mulut, dan mengoperasikn shutter dengan sisa daging yang lebih di tangan kanannya. Beliau pernah mendapatkan Rekor Muri, atas karyanya sebagai fotographer difabel. Sebagai penunjang aktivitasnya untuk bertransportasi, Bang Dzoel mengunakan kendaraan rakitan sendiri yang menggunaknan alat stir Go-kart.Tak hanya itu, Beliau juga sempat dua kali mengabadikan pemandangan di kawah gunung wijen tanpa menggunakan tripod. Melalui akun media sosialnya, beliau memposting baru saja mengunjungi negara Turki guna menghadiri seminar fotographi internasional.
Baginya, kesuksesan yang ia dapatkan bukan semata-mata karena kebetulan atau keberuntungan. Namunsemuanya berdasarkan kerja keras, dan kegigihan yang ia lakukan. Karena kesempatan tak akan hinggap kedua kali.
Banyak intisari yang dapat kita petik, dari kisah Bang Dzoel di atas. Di Steemit kita harus menjadi sosok tangguh, seperti beliau. Pekerja keras, ulet, sabar, dan pantang menyerah. Hambatan dan tantangan pasti datang. Baik melalui jumlah vote konten, writer block, ataupun masalah signal yang mungkin pernah dirasakan rekan Steemian semuanya. Mari bangkit, dan terus berjuang. Sekecil apa pun usaha, yang kita lakukan berulang-ulang, pasti akan membawa kesuksesan. Kembangan potensi diri, melalui karya di Steemit. Karena di sini kita bebas mengekspresikan kegemaran kita masing-masing, untuk belajar, mencari pendapatan, pengalaman dan kebersamaan menjadi anggota KSI.
We are of creator of our own future.
Kitalah yang merancang masa depan kita.
Semoga tulisan ini bermanfaat, dan memantikan semangat untuk berkarya, memotivasi satu sama lain.
Keep steem on![]
Taiwan, 22 Januari 2018
Note:dok from Dzoel FB