November 2011, saat burung besi raksasa membelah cakrawala. Membawa sejuta harapan sebuah masa depan, kesuksesan dan bisa membahagiakan keluarga di Kampung halaman. Koper hitam menjadi saksi akan niat di dalam hati, meninggalkan bumi pertiwi. Menjadi petarung tangguh di luar negeri. Taiwan tempat bekerja, dan merajut asa serta meraih pendidikan yang pernah tertunda.
Tak ada sesuatu yang tiba-tiba diraih, pasti semuanya butuh sebuah proses dan perjuangan. Ibarat pepatah lama mengatkan "Berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian". Apa yang saya dapati saat ini, tidak serta merta datang begitu saja. Pastinya segala perjuangan pernah saya alami, bekerja dengan kontrak yang tidak sesuai yang terbubuhkan di atas selembar kertas hitam putih juga pernah saya rasakan. Namunkarena tekat yang sudah bulat untuk berjuang, jadi kesabaran sudah saya tanamkan di dada. Saya berhasil melaluinya.
Menerima penghargaan Sastra di RRI Jakarta
Dua tahun di kontrak pertama saya ibarat “Katak dalam Tempurung”. Tidak tahu apa-apa, dan sudut di mana pun. Hingga akhirnya jalan keluarga itu ada, ketika agensi saya menjemput dan memindahkan saya ke tempat kerja lain. Di saat itulah celah untuk berkembang mulai terbuka. Mengawali dengan bergabung di sebuah komunitas kepenulisan yang bernama Komunitas Penulis Kreatif (Kpkers) yang digawangi oleh Eyang dan Abah
. Saya mulai menggali hobi yang telah saya gemari sejak anak-anak, yaitu menulis. Berawal dari puisi, pantun, kemudian saya mempelajari artikel hingga akhirnya saya dipercaya menjadi seorang kontributor di sebuah redaksi di Taiwan.
Menelantarkan beasiswa yang saya daptkan saat lulus Sekolah Menengah Lanjutan Atas (SLTA) merupakan hal yang sangat berat, mengingat siswa lain berlomba-lomba untuk mendapatkan Masih terngiang dengan jelas, bagaimana Bapak berkata saat saya meminta izin untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
“Nanti kalau kamu kuliah, terus biaya sekolah untuk adik-adik kamu dari mana?”
Shooting presenter di Redaksi TIMedia Taiwan
Atas meluncurnya kalimat tersebut membuat saya mengurungkan niat untuk melanjutkan pendidikan, dan memutuskan mengembara ke negeri orang. Namun, ketika ketulusan dan buah sabar berujung manis, di sini saya bisa melanjutkan pendidikan sembari kerja dan berkarya. Meski tidak mudah menjalaninya, karena harus berkejaran dengan waktu hingga tak ada kata waktu untuk bersantai. Detak waktu berkejaran sangat cepat, mulai pagi, siang, sore, dan merangkak ke tengah malam. Tanpa terasa, sudah jauh kaki kecil ini melangkah, mulai diundang ke Radio Taiwan Internasional (RTI), dalam Rubrik Bilik Sastra, menjadi presenter berita tamu di Garuda Formosa TV (GFTV), dan beberapa kali menjadi presenter di acara talk show yang dipersembahkan oleh Redaksi TIMedia dan INDEX.
Talk Show di Gedung RRI Jakarta
Pengalaman berharga juga saya dapatkan ketika duduk bersama dengna Prof. Dadang Iskandar selaku Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BPPB) Kemendekdibud Pusat, dan Kepala Station Luar Negeri RRI Anhar Ahmad, dan Anggota Dewan Pemgawas LPP RRI Freddy Dollu. Kami berada di acara Talk Show Penganugerahan Bilik Sastra VOI Award 2017. Di mana Indonesia melalui RRI memannggil anak negeri di perantauan yang memenangkan Bilik Sastra.
Selain mengikuti talk show, saya juga berkesempatan mengunjungi Pondok Seni dan Sastra milik Abrory Djabar. Saya dan kedua rekan yang berasal dari Polandia dan Hong Kong menjadi tamu kehormatan di acara pergelaran seni tersebut. Kami juga menjadi tamu kunjungan di Redaksi REPUBLIKA yang langsung dijamu oleh senior redaktur harian Bp. Irwan Kelana, bahkan hingga dijamu makan malam bersama. Selama lima hari melakukan city tour didampingi crew RRI dan menjadi tamu siaran program Sastra Mengudara.
Juga tidak berpikir sebelumnya, jika Aksara yang saya tekuni di Bumi Formosa, akan membawa saya jauh melangkah dan mengedalkan pada dunia luas, hingga mendamparkan saya ke rumah kita bersama di sini--STEEMIT--. Cita yang ingin saya wujudkan, meski sempat terbengkalai. Tidak ada yang tidak mungkin asalkan kita mau usaha.
Jika kita ingin mewujudkan impian kita. Satu hal yang harus dilakukan, yaitu Bangun dan berjuanglah!
Saat di kantor Republika
Untuk sahabatku .
Selamat ulang tahun saya ucapkan, semoga terwujud segala impian dan cita-cita yang engkau impikan. Ada Sedikit pantun yang ingin kepersembahkan
Beli bihun sama kelepon
Badan berkeringat pakai kebaya
Terima kasih saya ucapkan juga untuk kurator Indonesia Bang , Kakak
, dan Bang
, yang telah mendukung perlombaan ini. Salam Sukses untuk semuanya.
Taiwan 31, Maret 2018