Selamat Siang para steemian semua..., berikut merupakan uraian singkat tentang reusam (tradisi) masyarakat Aceh dalam kegitan peusijuek dengan menggunakan serangkaian daun-daun dan bulukat Tumpoe.
Tidak jarang kita lihat dalam setiap kegiatan peusijeuk (mentepung tawar) dalam tradisi masyarakat Aceh selalu ada dan digunakan serangkaian ikatan beberapa helaian daun dan bulukat tumpoe, hal ini merupakan reusam (tradisi) yag sering dilakukan baik dikegiatan peusijuek rumah, pengantin dara baroe atau bahkan peusijeuk orang yang mau berangkat ke tanah suci.
Ada yang menyebutkan bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan awal dalam setiap langkah yang akan dilakukan oleh masyarakat Aceh karena dianggap suatu kebrkatan dalam mensyukuri segala nikmat dan rahmat tuhan yang maha kuasa, karena selain untuk bahan dalam pesijuek, bulukat tersebut juga diberikan kepada tetangga jiran yang merupakan kenduri setelah kegiatan peusijuek tersebut.
Contohnya pada kegiatan peusijeuk rumah, setelah rangkaian kegiatan selesai maka bulukat tersebut selalu dibagikan kepada tetangga jiran untuk dinikmatinya, bulukat tumpoe tersebut banyak ragam warnanya, ada yang berwarna kuning, putih, atau bahkan pernah juga kita lihat yang berwarna merah atau sedikit keunguan disebabkan oleh beras ketan yang dipakai adalah beras ketan adang.
Reusam (tradisi) bagi masyarakat Aceh juga sering disebut adat istiadat karena hal ini sudah dianggap suatu kebiasaan masayarakat sejak turun temurun, walau reusam ini bukan merupakan adat istiadat bagi orang Aceh, karena dalam kata lain adat dan reusam tersebut adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan.