Foto: dokumen pribadi
Dan sekarang, aku di sini, duduk di bangku panjang taman kota. Nyaris setengah hari.
Beberapa bangku taman lainnya telah bebarapa kali didatangi pengunjung, silih berganti. Hanya aku yang masih betah. Aku sengaja datang lebih awal, agar aku bisa menduduki bangku yang persis menghadap ke kolam buatan yang di dalamnya tumbuh bunga teratai berwarna ungu. Embun masih terasa basah di bawah sepatuku saat aku datang ke taman ini tadi pagi. Masih tetap seperti yang dulu. Masih berwarna hijau tua.
Foto: dokumen pribadi
”Beri aku satu alasan, Ndru.”
Kamu diam. Lalu menundukkan kepalamu dalam-dalam.
”Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?” buruku lagi. Aku tentu tak mengharapkan jawaban terburuk. Tetapi aku terpaksa harus menahan cairan bening di mataku ketika kau menganggukan kepala. Aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Tetapi sungguh aku tidak ingin memperlihatkannya padamu.
Hujan yang kemudian jatuh membasahi tubuh kita membantuku mengaburkan airmata yang mengalir di kedua lekuk pipiku. Kau menatapku begitu dalam. Tapi kau diam. Tak ada satu pun dari kita yang berniat untuk beranjak dari situ. Hujan menjadi saksi bahwa bukan hanya aku yang terluka. Katamu―akhirnya―kau juga.
Lama aku menatap angsa putih yang sedang asyik menepak-ngepakkan sayapnya di dalam danau di hadapanku, saat kudengar celotehan kecil mengusik lamunanku. Seorang anak perempuan lucu terlihat sedang menarik kedua tangan ibunya menuju ke pinggir kolam.
Apa yang kau tunggu, Ky? Tak ada siapapun yang akan menemuimu di taman ini.
Aku tahu.
Oh, well. Aku pasti tampak begitu mengenaskan.