Sering terbukti memang benar demikian. Pun demikian dengan sepupu saya tersebut.
Demikian pula yang terjadi hari ini. Saya rugi karena sudah membuang belanjaan kemarin sore.
Rumah kami sedang banjir langsat dan rambutan hasil pemberian kenalan di Indrapuri. Tong sampah di dapur sudah overload, jadi kulit rambutan dan langsat saya isi dalam plastik tersendiri dan saya taruh di dapur untuk dibuang besok paginya saat truk sampah masuk ke kompleks kami. Karena kulit buah-buahan tersebut bukan sampah bau, saya meletakkannya di samping kantong belanjaan yang belum saya buka.
Sayangnya, saya pelupa akut. Ketika pagi ini mobil sampah masuk kompleks dengan ditandai bunyi tit tit tit yang cukup menganggu, saya menjadi panik―takut ditinggal mobil sampah―karena masih memakai baju rumahan yang terlalu membuka aurat, sementara sampah-sampah belum dikeluarkan dari dalam rumah, sementara saya hanya sendiri di rumah. Anak dan suami sudah berangkat menunaikan tugasnya masing-masing. Usai melakukan jurus tendangan seribu halilintar, saya keluar membawa kantong-kantong sampah.
Leganya karena rumah sudah bebas dari kantong-kantong sampah.
Tetapi di sore harinya, dompet saya yang tidak lega karena saya harus berbelanja ulang.
Dasar kau ceroboh, Mak! *tepok jidat pakai wajan
Foto: Pixabay