Gerbang masuk ke kampus putri Dayah Jeumala Amal. Alumni 2012 merupakan angkatan terakhir yang diasramakan di sini , tapi hanya pada saat kelas 1 tsanawiyah.
Dag-dig-dug. Detakan itu semakin cepat. Mobil memasuki gerbang hijau yang telah terbuka lebar. Beberapa lelaki menghampiri, mengeluarkan lemari dari mobil pick up. Anak kecil itu turun sambil mengenakan sarung dilengkapi peci hitam. Gumpalan ikatan sarung di depan nampak terlalu besar. Sementara itu, puluhan mobil masih terus berdatangan memasuki gerbang. Dimulai dari gerbang itu semua kenangan bermula, terukir rapi dalam ingatan. Dayah Jeumala Amal (DJA).
Begitulah sekilas ingatan pertama kalinya masuk ke dayah terpadu. Banyak hal indah kami tinggalkan di luar itu, kesenangan yang tidak lagi mungkin kami peroleh bebas. Sejak hari pertama, kami menaklukkan pagi bersama. Air menghujam, dinginnya menusuk belulang. Angka jarum jam terbesar masih berada pada angka empat. Bergegas kami pergi ke musala. Mata sayu, rasa ngantuk tidak tertahan. Kepala mengangguk-angguk, seolah mengiyakan, padahal dua bola mata tertutup rapat.
Kami sering menyebutnya “penjara suci”. Kami dididik keras. Mengeluh soal makanan pasti ada, namun kami tetap menikmatinya. Rasa sambalnya pedas. Terkadang nasinya keras. Makan, belajar, dan tidur bersama, mengeluh tak diizinkan pulang, bahkan keluar sebentar saja begitu sulit.
Infrastruktur dan fasilitas DJA semakin baik. Sekarang DJA memiliki jembatan penghubung kampus putra dengan kampus putri guna mencegah kecelakaan.
Di sana, setiap pelanggaran ada konsekuensinya. Hukuman menjadi makanan sehari-hari. Rasanya kami ingin pergi dari sana. Hari-hari pertama sangat berat. Wajah keluarga membayangi.
Begitulah rasanya masa awal kami berada di DJA. Ada keakraban di sana. Ikatan yang kuat hingga sekarang. Sekarang, hampir 12 tahun berlalu. Kami masih bisa mengingat suara sandal anak kecil itu yang berlarian karena takut telat ke musala.
Rindu kami tertanam di sana. Jiwa kami masih di sana. Cinta kami membuncah. Ingin mengulang masa lalu, tapi kami harus menatap masa depan. Rata-rata usia kami memasuki 24 tahun. Sampai sekarang kami masih memeluk kenangan itu.
Berdirinya Masjid Raudhatudz Dzahra yang megah menandakan berakhir masa-masa murid DJA salat di aula yang dijadikan musala.