Seperti komentar saya pada postingan beliau bahwa secara umum di Indonesia pada umumnya dan Aceh pada khususnya belum memiliki regulasi terkait batasan produksi komoditi pertanian. Misalnya pada daerah A dengan jumlah petani 100 orang dengan jenis tanaman B maka batasan kuota produksi sejumlah sekian ton. Penetapan kuotanya berdasarkan estimasi perhitungan konsumsi masyarakat plus total eksport jika di export. Jika kebijkan itu ada maka kejadian seperti yang di sampaikan oleh
bisa di minimalisir kecuali terjadi force majeur seperti bencana alam, gagal panen, serta faktor – faktor lain di luar kemampuan manusia. Dan di negara – negara maju kebijakan batasan produksi sudah lama terjadi untuk menghindari over produksi sehingga petani merugi termasuk jadwal tanaman apa yang harus di tanam agar tidak terjadi persamaan produksi antara daerah dengan daerah B. Jauh sebelum negara – negara maju terutama kawasan eropa menetapkan hal yang demikian maka Al-Quran sudah menjelaskanya terlebih dahulu silahkan lihat surat - surat berikut ini tentang pentingnya management dalam Islam. Kenapa saya mengaitkanya dengan Islam karena berdasarkan agama yang saya yakini plus tinggal di daerah Aceh sebagai daerah syariat Islam. Para ilmuan non muslim saja banyak mengkaji masalah menurut Al-Quran masak saya sebagai muslim tidak, itu kan lucu. Ayat – ayat Al-Quran tentang pentingnya management
• Al-Insyirah; 7-8
• Ali Imran; 103
• Al-Baqarah; 286
• Al-Baqarah; 208
• Q.S. Ash-Shoff; 1
• Q.S. At. Tahrim; 6
• Al-Mujadalah; 7
• Q.S. An-Najm; 39
• Dan beberapa ayat lainya. Silahkan baca buku – buku tentang management menurut Islam.Berikutnya adalah seberapa banyak mental petani kita siap sejahtera, saya berharap kepada
untuk kembali menanyakan kepada rekanya yang merugi tahun ini apakah sudah memiliki mental untuk sejahtera. Perlu di ingat banyak orang kita mengeluh karena susah tapi juga tidak memiliki mental untuk sejahtera/kaya karena sering terjadi ketika kaya mendekati seseorang bukanya tambah bersyukur malah menjadi bahaya karena lost control. Apakah pernah
mendengar kisah uang yang di jadikan rokok karena panen melimpah ruah, orang manjat cengkeh di sebut kera dan lain sebagainya. Belum lagi lost control nafsu birahi. Itu adalah kisah kelam yang melahirkan bencanan dan bencana itu tidak hanya berlaku bagi pelaku tapi juga bagi masyarakat lain. Untuk mengukur berapa siap mental petani kita menjadi kaya atau sejahtera tidak perlu bersusah payah, hitung dan lihat saja jumlah pemimpin yang ada di kabupaten/kota di aceh. Kemudian perhatikan apakah mereka punya mental siap kaya atau tidak. Kenapa saya kaitkan ke mereka karena pemipin – pemimpin di suatu daerah adalah gambaran masyarakat setempat sebagaimana yang di jelaskan dalam Al Quran” Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan (Al-An’âm/6:129)”
Terakhir, Kapan kita bisa memiliki kebijakan yang memihak
Ini jawabanya sangat politis suka tidak suka karena memang jalurnya di jalur politik. Secara garis besar kita hidup di negara agraris maka jawabanya pun adalah kapan berani kelompok tani di negara kita terutama Aceh khsusunya memilih pemimpinya sesuai syariat, jika tidak maka jangan harap sampai hari kiamat. Dan itu jelas di sebutkan dalam Al-Quran: 11 ““Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”