Mengulik kenangan kadang hanya membuat kepalamu semacam dihantam ratusan godam. Remuk redam. Barangkali pada kenyataan engkau telah menemukan banyak sekali keriuhan bangkit tersuruk. Baik dan buruk.
Di sini, saat ini, ketika membaca, merenung dan mengenang, apakah engkau sepertiku? Melihat dan merasa menemukan diri yang ternyata telah sangat banyak mengorbankan diri dalam beberapa perang. Oh Tuhan!
Aku dan mungkin pun kalian pernah menjelma jenderal atau prajurit pada masa silam dalam berbagai medan pertempuran. Sebagian besar dari pasukan masa silam hanyalah orang-orang bermental kalah atau yang enggan berjuang hingga menghabiskan sisa darah. Hasilnya, kita terlalu sering ditinggal sendirian, padahal perang masih di pertengahan juang.
Dengan berbagai keberanian, kadang kita tuntaskan itu laga hingga kalah dan mengap-mengap dalam deru dan asap senjata. Kadang juga kita tinggalkan begitu saja. Menunggu kematian dengan liput kecewa.
Jika kau sepertiku, setiap meninggalkan perang sebagai pengecut, sepanjang jalan kita hanya meratap. Mengutuk dan menghujat. Sebagai seorang martir, kalah bukan pilihan. Menyerah hanya membuat kau kehilangan harga diri di hadapan semesta raya. Tapi kadang entah demi apa kita memang harus ikut berhenti. Menyerahkan diri dirajam cambuk keadaan yang begitu tercemar.
Membaca kenangan kadang juga serupa menggali kolam besar yang lebih dari cukup untuk merendam tubuh kelelahan. Bahwa kita juga punya pasukan kecil yang sama bermental martir. Mereka yang siap turun ke laga hingga tuntas tanpa ciut pada kemungkinan buruk takdir. Sampai kemudian semesta menghadiahi kita kemenangan. Di hadapan jasad nasib yang sudah dikalahkan, kita mengangkat senjata, memberondong angkasa, dan mengibarkan bendera tanda digdaya.
Jika pun nyatanya setelah teguh berjuang kalian belum menang, temanmu mengajak berjuang lagi, menyelesaikan perang sampai titik: bersama-sama berbagi serang tangkis. Hingga kelak cakrawala menyampaikan kabar pada kita (kau bersama teman juangmu, aku bersama pasukan lagaku) bahwa sudah waktunya kita bersulang di hadapan kematian sebagai tentara yang yang punya harga diri. Sebab dunia meminta kita berhenti dengan cara menutup buku hidup ini.