Halo semuanya, pasti anda heran tentang judul postingan saya kali ini antara petani jengkol dengan Juragan BTC, mari menymak sedikit sejarah Jengkol dan BTC.
Ditengah-tengah turunnya harga BTC tidak ada yang bisa menafsirkan bahwa harga Jengkol melambung begitu tinggi
Saya lebih awal membahas tentang keberadaan petani jengkol yang menyengat saat ini di provinsi aceh, awalnya jengkol hanya batangan pohon yang memiliki buah yang bisa dimakan dengan nilai pada saat itu tak seberapa besar, artinya jengkol saat itu lebih banyah dimuntahkan oleh masyarakat ketika mendengar tentang tawaran untuk mengkonsumsi jengkol.
semenjak tahun 2005 jengkol hanya ternilai di aceh sebesar Rp. 1.500-2.000/kg, pada saat itu setiap kebun yang ditumbuhi jengkol secara tidak sengaja oleh manusia banyak yang di anggap bahwa jengkol merupakan bagian dari tanaman yang tidak berharga sehingga mereka menebangnya dengan penuh rasa semangat agar bisa di tanami tumbuhan lain.
Perubahan yang sangat serius terhadap harga Jengkol
Tanpa disadari bahwa tanaman yang dulunya pernah ia tebang kemudian dijadikannya sebagai bahan untuk kayu bakar mereka sehari-hari, akhirnya pada tahun 2012-2018 harga jengkol meloncat menjadi tanaman Raja dengan harga mencapai Rp. 7.000-12.000/kg, ini merupakan sebuah perubahan harga jual yang membuat sebagian masyarakat harus menompang kepala mereka karena pohon jengkol mereka sudah terlanjur di tebang.
Buloh beureughang kecamatan kutamakmur merupakan kawasan yang tergolong daerah petani jengkol pada saat itu hingga sampai saat ini, beruntungnya mereka yang masih memiliki pohon jengkol saat ini karena harga jual pada bulan Juli 2018 mencapai Rp. 17.000/kg. bandingkan dengan harga pada saat tahun 2005 dulu. hampir rata-rata setiap warga buloh beureughang yang tinggal pada wilayah pegunungan memiliki 2-3 batang pohon jengkol mereka yang masing-masing dalam satu batang mereka bisa memanennya sebanyak 1,8 Ton hingga 2 Ton, dikalikan dengan dengan 3 batang sehingga mendapatkan jumlah 6 Ton panen jengkol mereka per-tahun, 6 Ton = 6.000 kg x Rp.17.000 dengan jumlah total sebesar Rp. 102.000.000/tahun.
Apakah anda masih menganggap remeh terhadap Jengkol?
Siapa sangka petani jengkol memiliki kekayaan seperti ini, tentu tidak ada yang menduga, bahkan lebih terkejutnya lagi hampir rata-rata petani jengkol membawa pulang mobil walau setengah pakai, bayangkan bila semua petani aceh yang memiliki luas lahan sekitar satu Hektar (Ha) saja, mereka bisa menanami sebanyak 12 batang jengkol dengan kapasitas paling maksimal, kalikan dengan pendapatan yang sudah kita kalkulasi di atas.
Beralih kepada cerita BTC (Bitcoin)
Awalnya BTC memiliki kisah yang sama dengan kisah rendahnya harga jengkol, pada saat itu harga BTC dibawah $1/BTC, yang membuat para investors BTC melemah tak berdaya seakan ingin menggulung lapak seperti para petani jengkol menebang jengkolnya saat itu.
hari demi hari dilalui oleh investor BTC akhirnya menuai hasil yang sedikit memuskan pada saat itu tahun 2013, menurut catatan sejarah yang pernah saya baca BTC mengalami kenaikan harga diatas 300 hingga 400 hari, tercatat sampai saat ini BTC sudah lama bertahan pada harga Rp. 90.000.000 haingga 100.000.000/BTC, besar kemungkinan BTC akan naik pada tahun 2018 akhir di bulan Desember mendatang, terawang ini dilakukan oleh beberapa pakar dunia #Crypto beberapa bulan yang lalu.
Walau seberat apapun cobaan saat ini tidaklah itu sebuah kemalangan nasib bagi para petani jengkol dan BTC hingga Steem dan juga Steem Dolar, kedepan dunia cryptocurrency akan meloncat seperti harga jengkol dari Rp. 2.000 berubah menjadi Rp. 17.000/kg.
Terimakasih kepada
eSteem for all
eSteem University
KOMUNITAS STEEMIT INDONESIA