Pemenang Lomba Puisi
Balada Cinta Seorang Pramusaji
Kau lihat seorang perempuan dengan
Anggunnya duduk di meja seberang barista
Berbulu mata lentik, memakai pupur tipis
Di dua bilah pipinya yang ranum, dan
Senyum di bibirnya mengarungkanmu
Ke alam khayali tingkat tinggi
Itu karena gingsul mungil di sudut kanan mulutnya
Tersembul sempurna, dan kau terkesima
Gaunnya berwarna lumut, membungkus
Segala lekuk kontruksi tubuhnya, dan kau
Tak sanggup berpaling barang sekejap mata
Kau menunggu perempuan itu melambaikan
Tangannya yang gemulai ke arahmu, dan ya
Si perempuan bergaun lumut memanggilmu
Dengan lambaian lembut sembari binar matanya
Yang serupa kilau cahaya batu delima itu
Menumbuhkan imajinasi malam pertama di pikiranmu
Kau berjalan dalam gerak lambat. Serupa gerak
Slow motion dalam film-film Hollywood, serupa
Langkah seorang pendosa di altar pengakuan dosa,
Dan si perempuan itu menunggumu dengan takzimnya, serupa seorang kekasih yang menunggu
Pangeran cintanya dengan setia
Kau berjarak tujuh langkah setengah darinya
Tapi itulah jarak tujuh ratus tahun lebih bagi seorang
Yang dikepung cinta pada pandang pertama,
"Mas, apakah di kafe ini dibolehkan kentut? Tidak tahu kenapa, perut saya kembung dari kemarin. Mungkin masuk angin kali ya? Tapi tidak apa-apa ya saya kentut. Saya akan diam-diam saja, kok. Janji. Kentut saya tidak bunyi," kata si perempuan bergingsul mungil dengan lirihnya.
Tujuh ratus tahun lebih kau arungi gerak lambat
Untuk sampai di dekatnya. Tujuh ratus tahun lebih
Kau pendam cinta yang membuncah pada
Tatap pertama dan, tepat ketika kau sudah
Berdiri di sisinya, kau dengar ia minta izin kentut
Dengan lugasnya, dengan tenangnya
Cinta kau kian membahana
Dari meja dekat pintu, seseorang berteriak keras
Membuyarkanmu dari slow motion tujuh ratus
Tahun itu.
"Woi. Bang. Kupi sikhan," teriak lelaki itu tepat ketika
Si perempuan berpipi ranum mengangkat pelan
Bongkah pantatnya.
Emperom, 2017