Menulis dalam bahasa ibu
Setelah merenung agak lama, setelah menimbang-nimbang baik atau buruknya, untung dan ruginya, akhirnya memberanikan diri untuk mencoba kembali menulis postingan dalam bahasa Indonesia. Pertimbangan ini diambil karena menulis dalam bahasa ibu sendiri lebih nyaman karena inilah bahasa yang kita kenal sejak dilahirkan dan sudah menjadi kebiasaan sehari-hari untuk mengunakannya.
Dengan belajar lagi menulis karya tulis dalam bahasa Indonesia, membuat diri ini lebih mengenal akan kelemahan dan kelebihan kemampuan dalam berbahasa. Ternyata setelah mencoba-coba menulis dalam bahasa Indonesia akhirnya disadari bahwa banyak kelemahan yang ditemukan, mulai dari gaya bahasa, ejaan, pilihan kata (diksi) hingga susahnya membuat sebuah karya tulis yang layak baca
Pengenalan kelemahan dalam penggunaan bahasa ibu kita sendiri ketika menulis, menimbulkan kesadaran bahwa perlunya belajar lagi untuk membuat karya tulis yang layak untuk dibaca. Dengan mengenal kekurangan ini, berarti telah membuka pintu kejujuran untuk mengakui kelemahan akan diri sendiri dalam bidang tulis menulis dan berbahasa.
Mengenal bahasa ibu sendiri, ini bisa juga menjadi langkah awal atau bekal bagi kita ketika akan mempelajari bahasa asing karena kita bisa membedakan struktur, pilihan kata yang ada dalam bahasa asing dan nantinya akan kita gunakan ketika akan mentransfer penulisan yang ada dalam pikiran kita ke dalam bahasa asing. Menulis dalam bahasa asing berarti melakukan kegiatan mentransfer pola pikir, dan juga budaya bahasa ibu ke bahasa asing yang menjadi tujuan kita. Oleh karena itu penting kiranya untuk membiasakan menulis dalam bahasa ibu dengan baik, baru setelah itu mencoba dalam penulisan bahasa asing.(hpx)