Sejarah Cina yang panjang telah melahirkan budaya-budaya yang unik, dan dari budaya itu muncullah mitos-mitos dan legenda dewa-dewa yang masih dikenal oleh masyarakat Cina saat ini. Dewa-dewa yang muncul dari mitos dan legenda ini sangatlah banyak sehingga membuat E.T.C. Werner seorang mantan anggota Biro HIstorigrafis Pemerintah Cina di Beijing dan beserta seniman Cina menyusun buku yang membahasa mitos dan legenda para dewa yang ada di Cina. Buku ini sejatinya diterbitkan pada tahun 1922 dalam bahasa Inggris, dan kemudian pada tahun 2008 diadaptasi, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Johan Japardi dan diterbitkan kembali dalam edisi bahasa Indonesia oleh PT. Gramedia Pustaka dengan judul Mitos dan Legenda China Kumpulan Kisah Fantastis dan Rahasia di Baliknya.
Buku ini tidak melulu hanya menceritakan kisah mitos dan legenda para dewa di Cina, tetapi juga memberikan penjelasan mengenai keadaan sosiologi dan budaya masyarakat Cina pada sejak jaman kekaisaran Cina sampai awal berdirinya Republik Cina yang akhirnya melatarbelakangi terbentuknya mitos dan legenda para dewa di Cina . Salah satu contoh yang termuat dalam tulisan E.T.C. werner ini adalah kebiasaan tepuk tangan yang biasa dilakukan di budaya barat tidak bisa diterapkan pada budaya Cina pada saat itu (1) karena tepuk tangan dalam pemahaman masyarakat Cina digunakan untuk mengusir shaqi (hawa pembunuhan dari roh jahat).
Politeisme di dalam budaya Cina
Tiga agama Konfusianisme, Buddha dan Daois memberikan pengaruh besar terbentuknya politeisme di kalangan masyarakat Cina. Dewa-dewa yang ada dalam tiga agama ini disebut sebagai Tiga Serangkai Mulia dan Tiga Serangkai Murni.
Adapula pengangkatan seseorang menjadi dewa karena kehendak seorang Kaisar Cina, bahkan pada saat itu juga masih ada praktik penyembahan terhadap orang-orang hidup, biasanya ini dilakukan terhadap pejabat pemerintahan yang memiliki jasa besar terhadap komunitas masyarakat setempat dan ketika orang ini pindah karena tugas, biasanya masyarakat yang ditinggalkan oleh pejabat tersebut mendirikan kelenteng untuk mengenang jasanya.
Sedikit mengenai cerita dewa-dewa di Cina
Dewa Dapur
Dewa dapur merupakan hasil rekaan para kaum Daois(2), dan kadang kala juga disebut sebagai "Dewa Tungku". Legenda yang melatarbelakangi kemunculan dewa ini adalah cerita mengenai seorang pendeta Daois bernama Li Shao Jun dari negara Qi mengaku mendapatkan anugerah tidak bisa tua dan bisa hidup tanpa makan dari Dewa Dapur. Li Shao Jun ini juga berhasil meyakinkan Kaisar Xiaowudi (140-186 SM) dari dinasi Han untuk melakukan persembahan kepada Dewa Dapur ini dengan imbalan akan mendapatkan pil keabadian, akan tetapi kaisar akhirnya tahu tipu muslihat yang dilakukan Li Shao Jun ini dan menghukum mati dia. Namun karena ritual penyembahan Dewa Dapur telah tersebar dalam masyarakat Cina dan hingga saat ini masih dilakukan oleh beberapa komunitas yang mempercayainya.
Lima Sarjana
Dewa-dewa ini muncul karena pengangkatan atau persetujuan dari Kaisar Li Shimin (3), yang mana kelima dewa ini sebenarnya adalah lima orang sarjana yang pandai memainkan musik dan disukai oleh kaisar. Malangnya karena intrik busuk dari seorang pendeta Daois, membuat Kaisar Li Shimin membunuh kelima orang sarjana ini, setelah mengetahui intrik busuk penyebab kematian lima sarjana ini, akhirnya kaisar menyesal dan mendirikan kelenteng serta mengangkat kelima orang sarjana ini sebagai dewa. Kelenteng yang menjadi tempat pemujaan lima sarjana tersebut diberi nama Xiangsahan Wuyueshen (Bukit Harum Lima Dewa Gunung)
Buku ini merupakan buku yang menarik walau di beberapa bagian agak membingungkan karena menceritakan banyaknya cerita dewa-dewa di Cina dan hal ini adalah wajar karena adanya pengaruh tiga agama utama yang melatarbelakangi munculnya mitos dan legenda para dewa di Cina. Setiap agama utama ini memiliki dewa-dewa masing-masing bahkan kadang tercampur aduk menjadi dalam satu cerita mitos dan legenda. Inilah yang menjadi hal yang menarik dalam cerita mitos dan legenda Cina karena dua cerita berasal dari dua mitos berbeda, suatu saat akan bertemu dan menjadi satu dalam cerita mitos dan legenda yang lainnya.(hpx)
1. Halaman 29.
2. Halaman 155.
3. Halaman 236