Masyarakat Jepang dikenal dengan budayanya yang menarik dan unik, akan tetapi ada satu hal yang menarik dari hal itu yaitu budaya disiplin. Ternyata budaya disiplin masyarakat Jepang tidak muncul begitu saja, akan tetapi perlu usaha keras dan sosialisasi yang dilakukan bertahun-tahun sehingga akhirnya membentuk karakter disiplin dan etos kerja yang positif.
Buku Seikatsu Kaizen ini menjelaskan secara jelas dan singkat bagaimana sejarah perjuangan masyarakat Jepang untuk membudayakan kehidupan disiplin dalam kehidupan sehari-harinya. Selain itu, Susy Ong, sang pengarang buku, memiliki latar belakang sebagai pengajar di Program Studi Kajian Jepang di Universitas Indonesia telah merangkum dan menyusun buku ini dengan cara melakukan studi pustaka langsung di perpustakaan nasional Jepang di Tokyo (National Diet Library) dan menjadikanya menjadi suatu karya tulisan yang bersifat ilmiah tapi enak dibaca dan dimengerti.
Penjelasan yang menarik yang ada dalam buku ini adalah memberikan gambaran jelas tentang usaha yang dilakukan pemerintah Jepang untuk merubah presepsi masyarakat internasional terhadap budaya Jepang ternyata sangat luar biasa apalagi para intelektual juga mendukung gerakan ini. Usaha perubahan budaya Jepang menjadi masyarakat disiplin dimulai ketika pemerintahan era Meiji berkuasa, pada saat itu kaisar Jepang mencetuskan perlu adanya perubahan budaya karena ada keprihatinan beberapa budaya tradisional Jepang yang memiliki dampak negatif bagi kehidupan masyarakat Jepang itu sendiri.
Beberapa kebiasaan negatif dan sudah menjadi budaya yang ada pada saat itu (budaya negatif yang menjadi kebiasaan di jaman Edo) adalah sering melakukan pesta yang terkesan mewah, sering terlambat datang kerja, berciuman didepan umum, dan lain sebagainya. Bahkan seorang pejabat umum seringkali datang terlambat untuk menghadiri acara resmi, karena pada saat itu ada anggapan bahwa sudah sewajarnya seorang pejabat umum datang terlambat karena kesibukannya.
Salah satu cara untuk merubah kebiasaan buruk masyarakat Jepang pada saat itu adalah membentuk lembaga-lembaga ada yang tersebar hampir di seluruh pedesaan Jepang, dan lembaga ini berfungsi mesosialisaikan perlunya adanya perubahan budaya yang menuju kearah masyarakat disiplin dan teratur. Kaisar Jepang juga mengirimkan para pelajar dan cendekiawan ke negara-negara maju untuk melakukan studi disana dan setelah menyelesaikan studi mereka diminta untuk kembali ke Jepang. Para cendekiawan ini diangkat sebagai pelopor dan contoh hasil perubahan budaya.
Hal yang paling menarik, Susi Ong menjelaskan bahwa budaya Bushido yang dikenal ternyata adalah budaya yang dicetuskan oleh seorang cendekiawan Jepang yang pernah studi di luar negeri. Budaya Bushido mempersamakan bahwa kode etik kehidupan samurai memiliki kesamaan dengan kode etik chilvary yang ada di Eropa. Konsep Bushido ini tidak ada sebenarnya, akan tetapi dibentuk dan dibuat agar memberikan gambaran kepada masyarakat Eropa bahwa masyarakat Jepang juga memiliki kode etik kekastriaan yang sama dengan mereka.
Jadi buku ini menarik untuk dibaca, karena dibuat oleh orang yang memiliki pengetahuan akan ilmu tentang budaya Jepang, serta dikemas dalam bentuk sebuah buku yang ilmiah tapi serasa sebuah buku bacaan yang mudah dimengerti dan enak dibaca.(hpx)