Kami bisa hidup rukun.
Kodok-kodok itu sepertinya, menangkap pesan damai saya. Setiap saya ke halaman belakang menyiram tanaman, mereka akan bergeser sedikit, menyingkir ke semak dan mengerti kalau saya tak suka mereka mengganggu tanaman.
Kami memang hidup rukun.
Ketika saya melahirkan Shafiya, anak-anak kodok pun mulai lahir. Setiap hujan turun, mereka akan bernyanyi sahut-sahutan. Kodok-kodok di halaman rumah saya mulai ramai. Saya berkenalan dengan anak-anak kodok yang melompat-lompat. Tapi dasar anak-anak! Anak-anak kodok itu tak sekalem ibu-ibu mereka. Anak-anak kodok itu lebih lincah dan terkadang ‘maaf’ kurang ajar. Saya sering kaget karena mereka bisa saja tiba-tiba melompat ke arah saya, melompati jendela dan akhirnya berhasil masuk ke dalam rumah. Ibu-ibu mereka pasti lupa mengajarkan sopan-santun!
Saya mulai merasa terancam. Terlebih ketika mereka mulai berani menapak di kamar mandi kami. Saya tak nyaman melakukan aktivitas di kamar mandi dengan mata-mata kodok mengawasi. Maka, saya ambil serokan sampah, saya angkat tubuh anak kodok itu dan saya buang ke luar.
“Jangan berani-berani lagi masuk ke rumah!” pesan saya dengan nada ancaman. Si anak kodok gemetar. Ibu kodok yang melihat tak menjawab, namun saya tahu ia tak senang anaknya dikasari. Kedamaian yang kami sepakati terancam. Memang benar, ini tanah leluhur mereka. Tapi saya juga sudah mengeluarkan uang untuk membeli tanah dan rumah di sini. Kalau mau protes, protes saja pada pihak developer atau pemerintah yang mengizinkan pembangunan di kawasan sini.
Lalu, mereka hilang. Semuanya. Ibu-ibu, bapak-bapak dan anak-anak kodok.
Hari ke hari, saya tak lagi menemukan mereka di halaman samping dan belakang. Mereka tak ada di pot-pot tanaman, atau di semak-semak. Awalnya saya merasa aneh. Namun lalu saya senang. Saya menang.
Hingga, pagi tadi…..
Ketika saya menjemur, mata saya bertubrukan dengan sepasang mata lain yang mengintai…. Sekian detik, saya bengong. Detik selanjutnya saya terbirit, meninggalkan kain yang hendak saya jemur. Sepasang mata itu tampak licik. Mata itu milik seekor ular!