Jika membaca judul postingan ini, saya yakin pasti ada yang berpikir penulis akan mengkritik seseorang yang asal-asalan membuat postingan di Steemit. Tapi ini bukan, cobalah membaca hingga akhir jika sudi, maka Anda akan menemukan maksudnya dan isi tulisan pasti tak bermakna apa-apa.
Ceritanya, tadi siang ingin masuk kuliah, tapi saya kabari ke teman-teman untuk mengatakan kepada dosen bahwa saya datang terlambat. Saya tidur sejenak menunggu pukul 14.30 WIB, begitu saya buka mata sudah pukul 17.00 WIB. Omak, bolos lagi kuliah hari ini.
Usai salat Magrib saya minta izin kepada orang di rumah untuk buat tugas paper filsafat ke warung kopi. Karena alasannya manis sekali, orang di rumah pun tak sungkan memberikan izin, malah mendoakan, "Semoga sukses ya, Bang!"
Lalu saya tanya, mau pesan apa? Maksud saya pesan makanan, supaya nanti bisa saya beli saat saya pulang. Namun jawabannya bukan seperti yang saya duga. "Aku pesan film India satu, sudah lama abang tak download film baru," katanya.
Oke, saya ambil tas dan jaket langsung cuus ke Bin Ahmad Coffee berharap ada teman-teman steemian di sana. Tiba saya di sana, suasana sepi, hanya ada dua orang lelaki sedang serius menatap layar gawainya. Saya tak menyapa, saya tak kenal mereka. Lalu saya buka grup WhatsApp KSI Chapter Banda menanyakan mereka di mana.
"Barakah (nama warung kopi di Lambhuk), kemari saja, Tidak akan diganggu, datang saja," respon .
"Ok" saya jawab meskipun tak tahu maksud kalimat tidak akan diganggu tadi. Karena tidak ramai pengunjung di Bin Ahmad, kecepatan internet pun lumayan kencang, 1,1 Mb/second. Menempati janji orang rumah tadi, saya download film bollywood berjudul Bhaagamatie. Ukuran file 1,2 GB. 15 menit selesai. Saya lupa buat tugas paper.
Namun saya tak langsung ke Barakah, saya salat Insya dulu. Alhasil dari kata "Ok" tadi, sejam kemudian wajahku baru nongol ke Barakah. protes, "Kemana, tak sampai-sampai?"
Dari parkiran Barakah tampak di meja sudut kanan tiga lelaki dan satu perempuan duduk saling berhadapan. sebangku dengan
, bangku satu lagi ada
sebangku dengan Kurator Steemit Indonesia
.
berwajah kusam akibat kenak sinar matahari dan angin laut,
dan
juga. Mereka baru saja tiba dari Pulau Aceh bersama beberapa steemian lainnya. Seharusnya saya dalam rombongan mereka, tapi karena tugas presentasi di kampus, saya urung untuk pergi. Kesal sih, karena itu agenda yang saya tunggu jauh-jauh hari.
Aku selfie, baru sadar bahwa wajahnya kusam. "Kalau aku pulang, jangan-jangan keluargaku tak mengenalku lagi," katanya bergurau.
Tak lama kemudian pamit dengan alasan lelah dan kantuk. Spontan
bertanya, "Apa pulang awal-awal?" tanya Levy mencandai Mira nama pemilik akun
yang ingin cepat pulang.
"Perlahan-lahan ya," sambung saya melanjutkan candaan Levy.
Usai Mira pulang, Levy pun sudah dijemput mini bus untuk kembali ke Lhokseumawe. Tinggallah kami bertiga; saya, , dan Atok
.
Ada satu petuah dari , katanya ketika membuat postingan, ia selalu beranggapan akan divote besar oleh banyak orang, sehingga tetap semangat saat menulis. Namun katanya tak pernah patah semangat ketika tak mendapakan sesuai harapan.
"Begitulah cara kita menjaga semangat." tutupnya.
Sudah, itu saja ceritanya. Betul kan seperti judul di atas, memaksa buat postingan, tapi isinya tak berarti apa-apa. Tapi cerita di atas merupakan kisah nyata, buka bukan fiktif belaka.[]