Mungkin, sebagian besar kita sering mendengar atau membaca kalimat-kalimat motivasi tentang fenomena orang-orang yang berteriak ketika marah. Mengapa orang cenderung bersuara lebih keras dari biasanya ketika merasa kesal atau meluapkan kemarahannya kepada seseorang?
Alasannya cuma satu, ketika seseorang berteriak saat marah, sebenarnya ada cinta yang hilang dalam diri orang tersebut. Hati mereka semakin jauh dengan orang yang ia maki. Karena kejauhan tersebut ia seakan membutuhkan suara yang keras agar bisa didengar oleh komunikannya.
Sebaliknya, ketika mereka saling mencintai, hati mereka semakin dekat. Sehingga untuk menyampaikan sebuah pesan terkadang tidak perlu lagi dengan komunikasi verbal. Dengan bahasa isyarat (body language) saja mereka sudah mengerti satu sama lain.
Lalu, saya terpikir dan bertanya dalam hati. Apakah ada kaitannya dengan orang-orang yang sering mengeluh di media sosial itu, khususnya mereka yang mengeluh tentang pasangan mereka atau permasalahan di rumah tangga mereka sendiri?
Kalau memang mereka merasa dekat, mengapa harus mencari media lain sebagai pelampiasan atau perantara agar pesan mereka tersampaikan? Syukur, jika sasaran yang dituju ada dalam platform yang sama. Akan tetapi jika tidak, kan sama saja seperti menempel pengumuman di pinggir jalan. Semua orang bisa melihat dan menafsirkan sesuai keinginan mereka. Ada yang menertawai, mengasihani, dan ada pula yang malah mengejeknya.
Beberapa waktu lalu saya ikut kelas Forum Aceh Menulis (FAMe). Kebetulan hari itu tema diskusi tentang menuangkan apa yang sedang dirasakan dalam bentuk tulisan mampu mengurangi beban psikis. Misalnya kita sedang mengalami sebuah masalah trauma atau depresi. Lalu kita menulis semua apa yang kita alami, katanya mampu menguragi beban tersebut.
Sepertinya saya percaya akan hal itu, sebagai bukti mantan presiden Republik Indonesia, Bj Habibie. Ketika istrinya, Ainun meninggal dunia, Habibie mengalami depresi berat. Siapa yang tidak stress ketika harus berpisah dengan orang yang sangat dicintai.
Ketika ia konsultasi dengan dokter, ia diberikan empat opsi. Pertama, Habibie harus dirawat di rumah sakit jiwa, kedua Habibie harus dirawat oleh dokter di rumahnya, ketiga banyak-banyak bercerita kepada teman-temannya atau teman Ainun, dan yang terakhir, Habibie diminta menulis kisahnya. Dan, Habibie memilih opsi terakhir, sehingga menjadi buku best seller dan kisah dalam buku tersebut juga difilmkan. Luar biasa!
Terkait dengan orang yang curhat di media sosial tadi, saya mulai terpikir lagi, apakah ada hubungannya juga dengan materi itu? saya coba bertanya kepada narasumber, namun jawabannya membuat saya kurang puas. Karena jawabannya tidak nyambung dengan pertanyaan saya.
Dari hasil penelurusan saya yang saya kutip dari beberapa sumber menjelaskan, secara psikologi bahwa mereka yang kerap mengeluh di sosial media ternyata terkena gangguan psikologis yang disebut factitious disorder atau gangguan buatan pada internet.
Dengan menumpahkan semua isi hati dan unek-unek , mereka bisa merasa lebih lega. Akan tetapi sebenarnya mereka sedang mengharapkan perhatian dari orang lain. Ketika orang lain merespon, ia seperti mendapatkan kesenangan tersendiri. Syukur jika yang merespon dengan positif, jika sebaliknya justru bukan menyelasaikan masalah, melaikan menambah masalah.
Kembali ke tema soal cinta dan kedekatan hati tadi. Kunci keberhasilan dalam sebuah hubungan yaitu komunikasi. Jika ada masalah dikomunikasikan dengan yang bersangkutan. Tak perlu mencari media perantara, kecuali masalahnya sudah sangat kronis, seperti konflik yang menelan korban jiwa, maka perlu mediasi dari pihak eksternal seperti GAM dan NKRI.
Selama masih bisa dikomunikasikan, lakukan itu dengan penuh cinta. Tidak terkecuali bagi mereka yang mencintai seseorang, ia harus memberi tahu kepada orang yang dicintai. Soal ditolak itu perkata nomor 18, kata Pidi Baiq, bilang saja kita hanya bercanda atau sekadar informasi. Selasai!