Ia duduk berpangku tangan
Di hadapannya sebuah peta membentang
Ia pandang dengan mata mengenang
Dua musim hujan telah dia kuasai
Di kursinya dia duduk seperti tersangka
Tak mampu mengakui kesalahannya
Di atas peta berserakan mayat-mayat maya
Dengan darah mengenang nyata
Pukul dua malam ia membuka jendela
Hujan jatuh dan tak sanggup menyentuh tanah
Hanya searsir peta yang mengenang
“semoga hujan mengubur mereka.”
-Ibe S. Palogai-