Jauh hari saya sudah memprediksi, steemit tidak sama dan tidak akan pernah sama dengan media sosial yang lebih sosial seperti facebook dan twitter. Nilai vote yang ada pada steemit sama sekali bukan pengikat persahabatan, melainkan perenggang ikatan yang sudah pernah ada.
Kini, keluhan demi keluhan muncul dari para steemian. Bahkan dari mereka yang tempo hari begitu gigih mempromosikan steemit. Sebut saja, yang beberapa waktu lalu dengan terang-terangan menulis pengunduran dirinya dari steem ambasador.
Dua hari ini, muncul pula ungkapan tidak sosialnya orang-orang di media sosial steemit. Ungkapan tersebut secara eksplisit dapat dibaca pada salah satu tulisan atau Khairil Miswar. Ia menyebutkan bahwa orang-orang di media sosial facebook lebih bersahabat. Paling tidak, lebih menjunjung tinggi persahabatan tinimbang orang-orang di steemit yang selalu itung-itungan memberikan vote. Umumnya, mereka lebih suka memberikan vote kepada orang yang memiliki Steem power tinggi. Tujuannya agar ia bisa memperoleh vote balasan dari si pemilik SP tinggi tersebut.
Di sinilah lunturnya sosial para pemain media sosial steemit. Belum lagi vote tertentu hanya diberikan kepada orang yang suka memuji dan memuja kurator. Dalam bahasa kami, itulah kelompok penjilat.
Walhasil, beberapa pendekar facebook kembali ke habitatnya di facebook. Pulang membawa kekecewaan karena ternyata orang-orang di steemit tidak sesosial yang diberitakan. Hastag #indonesia pun hanya kamuflase karena pada kenyataannya tidak semua steemian Indonesia yang memiliki SP tinggi mau vote tulisan sesama indonesia yang membuat hastag indonesia di urutan pertama.
Puncaknya, menilai steemit tidak lebih dari MLM gaya baru. Ah....
(bersambung...)