Cuaca pagi itu cerah. Kesibukan sudah mulai tampak di hotel tempat kami menginap. Sebagian tamu menikmati sarapan di restoran, sebagian lagi sibuk bersiap-siap untuk aktifitas hari itu. Beberapa wisatawan mancanegara tampak sibuk mengatur papan selancar mereka di sepeda motor sewaan. Saya dan teman saya, mbak Ning duduk di teras menunggu jemputan datang. Tak lama berselang, sebuah mobil berwarna hitam memasuki pelataran hotel. Sejurus kemudian, bli Made keluar dari mobil dan menyapa kami dengan ramah (‘bli’ adalah panggilan serupa ‘abang’ di Sumatra atau ‘mas’ di Jawa). Bli Made ini berperan sebagai supir, pemandu wisata sekaligus fotografer selama kunjungan kami beberapa hari di Bali.
Mobil melaju pelan menyusuri jalan Poppies 2, sebuah jalan di mana banyak hotel murah bertebaran. Kami melihat banyak turis mancanegara lalu lalang. Bahkan, lebih mudah menemukan wisatawan mancanegara daripada lokal di sini. Memang, Poppies sudah terkenal di kalangan backpacker/low budget traveller seantero jagad. Ada dua faktor utama, yang pertama adalah harga yang terjangkau. Dengan harga antara 100-200 ribu, kita bisa menemukan hotel yang nyaman, bersih, dan lengkap fasilitasnya. Karenanya, banyak turis yang menginap sampai berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan di sini. Faktor kedua adalah lokasinya yang sangat strategis, hanya sekitar 5-10 menit jalan kaki dari pantai Kuta, Bali.
Tanjung Benoa, Pusat Wisata Bahari
Sekitar 35 menit kemudian, kami sudah sampai di tempat yang kami tuju yaitu Tanjung Benoa, pusat wisata bahari di Bali. Pengunjung sudah cukup ramai. Saya menebar pandangan ke arah laut yang ombaknya tenang itu. Tempat ini tampak sangat hidup. Kapal-kapal kecil berseliweran membawa penumpang yang sekedar ingin berkeliling menikmati keindahan suasana di tanjung tersebut. Kita juga bisa melihat kapal-kapal pesiar yang cantik melintas. Lalu banyak jetski berlalu lalang, ada yang dikendarai sendiri oleh pengunjung, ada juga yang ditemani oleh kru yang umumnya adalah anak-anak muda lokal berkulit gelap terkena panas matahari dengan penampilan ala-ala peselancar atau penjaga pantai. Sesekali jetski berkejar-kejaran satu sama lain, membuat manuver-manuver tajam saat belok mirip adegan di Baywatch. Speedboat juga tak kalah sibuknya menarik berbagai macam jenis permainan. Suara deru mesin jetski dan speedboat berpadu dengan jeritan, teriakan, dan tawa para pemainnya. Ada yang berteriak karena senang, ada juga yang histeris karena takut.
Berbagai macam kegiatan yang berhubungan dengan air laut ada di sini seperti naik jet ski, banana boat, snorkling, menyelam, flying fish, rolling donut, parasailing, seawalker (berjalan di dasar laut), dll. Ada banyak operator di sini, dan harga yang ditawarkan juga bervariasi tergantung jenis kegiatan atau permainannya. Harga akan lebih murah jika mengambil harga paket daripada membayar permainan satu per satu. Silahkan googling jika ingin mengetahui harga secara detail. Saat ini banyak operator menawarkan pemesanan secara online yang harganya lebih murah dibanding jika kita membayar di tempat.
Terbang dengan Parasailing
Setelah melihat-lihat brosur dan memperhatikan orang-orang yang lebih dulu bermain, kami membuat keputusan. Mbak Ning memilih bermain jetski, dan saya sangat antusias untuk bermain parasailing.
Parasailing adalah permainan menggunakan parasut seperti terjun payung yang ditarik oleh speedboat. Titik awal dan titik untuk mendarat adalah bibir pantai. Pemain harus menggunakan jaket pelampung. Kita juga harus memakai sarung tangan merah di kiri, dan biru di kanan. Sebelum terbang, kru akan memberikan arahan apa yang harus dilakukan. Untuk mendarat, kru menggunakan dua bendera berwarna merah dan biru. Jika yang dikibarkan adalah bendera merah, maka tangan kiri kita (yang memakai sarung tangan merah) harus menarik tali parasut ke bawah dengan kuat begitu juga dengan yang berwarna biru. Tarikan yang berganti-gantian ini akan membuat parasut berbelok sehingga tepat sasaran saat mendarat.
Ada perasaan tegang saat menunggu giliran. Saya bertanya-tanya apakah parasut saya bisa terbang, apakah saya akan histeris di atas sana, apakah saya nanti bisa mendarat dengan tepat, ah banyak sekali pertanyaan berkecamuk. Saat yang dinanti tiba. Dengan cekatan, kru memasangkan parasut dan memberikan instruksi dengan cepat. Sejurus kemudian speedboat mulai menarik saya. Jantung saya mulai berdegup kencang dan nyali saya mulai menciut. Seorang kru mendorong saya sambil berlari sampai saya bisa terbang meninggi, tinggi, tinggi, dan akhirnya saya sampai di titik paling tinggi. Wow, hanya dua kata untuk menggambarkan apa yang bisa saya lihat di atas sana: luar biasa! Seketika itu rasa takut saya hilang karena ternyata pemandangan dari atas jauh lebih memukau. Gradasi air laut terlihat sangat cantik, mulai dari biru pekat di tengah, lalu berubah menjadi hijau toska, lalu berubah menjadi bening begitu sampai di tepi pantai. Laut terlihat sangat bersih, tak ada sampah sedikitpun. Ombak yang berwarna putih susul-menyusul berlarian menuju bibir pantai. Kapal, jetski, dan speedboat yang lalu lalang meninggalkan bekas berupa ombak berwarna putih memanjang, kontras dengan warna laut yang biru. Tak terasa, satu putaran sudah usai dan saya harus mendarat. Tapi dalam hati sebenarnya saya tidak rela, masih ingin berada di angkasa mengagumi panorama indah itu.
Babak Belur Dihajar Rolling Donut
Selanjutnya mbak Ning dan saya mencoba permainan rolling donut, yaitu permainan yang menggunakan semacam pelampung berbentuk menyerupai donat dan ditarik oleh speedboat. Seperti biasa, jaket pelampung harus selalu digunakan. Perlahan-lahan speedboat meninggalkan bibir pantai menuju ke tengah. Donat yang tadinya melaju santai tiba-tiba bergerak amat cepat seiring dengan menggilanya kecepatan speedboat. Kami harus mencengkram kuat-kuat pegangan yang ada di kanan dan kiri kami. Jika tidak, kami bisa terlempar ke laut. Sesekali donut memantul-mantul dengan keras di atas permukaan air. Secara refleks kami berteriak kencang agar tidak tegang. Air lautpun sesekali menampar-nampar muka kami, membuat pedih mata dan kami nyaris tidak bisa bernapas.
Puncak dari ketegangan adalah saat speedboat menikung dengan tajam membuat donat terlempar ke samping begitu kuat dengan kecepatan penuh. Tak pelak lagi, semua tenaga kami kerahkan untuk mencengkram pegangan itu. Rasanya tangan sampai kebas dan pegangan nyaris terlepas. Teriakan kamipun otomatis naik beberapa desibel. Jantung rasanya bekerja pada level maksimum saat itu. Setelah speedboat lurus dan melambat, kami bisa bernapas agak lega. Tapi itu hanya berlangsung beberapa detik. Speedboat kembali melaju kencang dan bermanuver. Kamipun kembali histeris. Begitulah, siklus menegangkan itu berulang berkali-kali. Dan akhirnya saat speedboat bergerak dengan tenang menuju tepi pantai, saat itulah kami baru merasa benar-benar lega karena permainan telah usai. Derai tawa kamipun menyatu dengan suara deru mesin speedboat. Begitu turun dari donat, hanya rasa puas yang ada meski badan terasa letih, lemah dan lunglai. Maksud hati ingin mencoba permainan yang lain, tapi apa daya, badan dan jantung sudah babak belur saat bermain rolling donut tadi. Akhirnya kami memutuskan untuk mandi dan ganti pakaian, lalu duduk-duduk santai di tepi laut.
Sensasi Naik Balon Udara
Setelah puas berada di Tanjung Benoa, kamipun bergerak menuju Nusa Dua. Tujuan kami adalah Bali Eye, yaitu wisata naik balon udara di mana balon diikat dengan tali dan terbang sampai ketinggian tertentu. Tapi sayang sekali saat ini balon udara sudah tidak beroperasi lagi.
Saya berusaha keras membujuk mbak Ning untuk ikut naik karena beliau takut ketinggian. Setelah mengerahkan semua keberanian, akhirnya mbak Ning ikut naik meskipun saat balon mulai terbang, wajahnya mulai pucat dan tangannya memegang erat jaring di sekeliling tempat kami berdiri. Angin mulai berhembus cukup kencang sehingga balon terasa bergoyang-goyang membuat saya harus pegangan erat pada jaring. Saat balon mencapai ketinggian maksimal, kami disuguhi pemandangan yang sangat apik. Laut biru membentang luas, kontras dengan warna hijau pepohonan di pulau. Ombak berwarna putih susul-menyusul menggapai pantai. Bangunan-bangunan beratap oranye yang kebanyakan adalah hotel tertata sangat rapi. Mbak Ning yang semula sangat tegang mulai bisa menikmati keindahan dari ketinggian.
Tak terasa, hari beranjak petang. Ada perasaan puas tersimpan di hati meski tubuh masih merasa lelah. Kami memutuskan untuk menyantap hidangan di sebuah restoran Jepang, untuk memanjakan tubuh yang letih dan jantung yang telah bekerja keras hari itu.