Berjejer penjual buku dan majalah bekas diJalan Cikapundung barat Kota Bandung, tepatnya didepan Kantor PLN, terlihat ratusan tumpukan buku yang siap untuk dijual.
Gerobak dorong selalu menemani sebagai wadah atau tempat menyimpan buku apabila waktunya untuk disimpan kembali supaya tidak rusak, ratusan buku yang dijejer di trotoar, dipajang didinding, bukan ajang pameran melainkan buku-buku tersebut untuk dijual.
Kawasan Cikapundung dan sekitarnya merupakan Central keramaian, banyak terdapat bangunan sejarah peninggalan kolonial, dan sejak dahulu kawasan Cikapundung sekitarnya menjadi tempat untuk menikmati sejarah Bandung tempo dulu.
Pengunjung tidak hanya dari Bandung sendiri melainkan banyak masyarakat dari luar Kota Bandung, ada beberapa tempat di Bandung yang menjual buku-buku bekas, di pasar Palasari, pasar buku bekas di Dewi Sartika dan di Jalan Cikapunung barat.
Semenjak tahun 1970 penjual buku-buku dan majalah bekas sudah ada hingga sampai sekarang, dengan kemajuan era teknologi digital, sedikit banyak berpengaruh pada minat pembeli dan berkurangnya jumlah pedagang. Menurut pak Ali yang sudah berjualan buku dan majalah bekas sejak tahun 2000, mereka menggantikan kakaknya yang lebih dahulu pernah menjual buku bekas di tempat yang sama, jumlah penjual buku dan majalah bekas dahulu 30 orang penjual buku, sekarang tersisa hanya sekitar 10 orang penjual buku.
Pak Ali yang berasal dari kota Tegal sudah 19 tahun menekuni jualan buku bekas dengan rajin dan tekun sebagai ihktiar untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, menjual buku mulai jam 8 pagi sampai jam 18.oo sore, tapi kalau kondisi pengunjung cukup banyak, tutup sampai malam hari.
Memburu buku dan majalah bekas, seperti halnya seperti memburu harta karun kadang gampang, gampangnya kalau buku yang dicari tersedia, susahnya kalau buku yang dicari tidak ada, kalaupun ada harus pesan dahulu, menurut cerita dari pak Ali, mencari buku dan majalah lawas yang akan dijual, terkadang penjual mendatangi para kolektor buku yang dia kenal, atau ada yang sengaja mendatangi di tempat penjualan.
Ada ratusan buku dan majalah yang dijual seperti buku sejarah, sastra, buku filsafat,agama, hukum, buku terjemahan belanda indonesia, majalah penerbangan,majalah pakaian, majalah lingkungan, majalah pariwisata dan yang lainnya, banyak buku diterbitkan dari tahun 60, 70 an juga buku-buku terbitan sebelum Indonesia merdeka.
___Tumpukan harta karun___yang dijual berada di trotoar depan gedung PLN jalan Cikapundung barat adalah primadona bagi para penikmat literasi khususnya para kolektor buku.
Harga-buku bekas cukup murah bukan murahnya, tapi buku yang dicari sudah berumur puluhan tahun yang tidak diterbitkan lagi, yang menulis buku juga menjadi kenangan tersendiri karena tulisan akan menjadi abadi, tidak mengenal ruang dan waktu.
Pak Ali menceritakan tentang gerobak didepan jejeran buku yang lagi dijual, Gerobak itu menunggu setelah selesai penjualan, dimasukan kembali kedalam gerobak, dahulu gerobak tempat penyiman buku dan majalah bekas di bawa pulang pedagang masing-masing, dengan sistem itu penjual akan merasa capai, sekarang gerobak tersebut tetap berjejer dan tidak lagi dibawa pulang, hanya dijaga oleh petugas sebagai faktor keamanan.
Mungkin kita sering menemukan dua ungkapan bahwa buku adalah jendela dunia, dan buku adalah gudangnya ilmu, membaca buku dapat memperluas pengetahuan dan mendatangkan banyak pelajaran baru.
Bandung,16 September 2019.