Masih segar dalam ingatan kita bagaimana reaksi saat beberapa stemian yang ada di Indonesia dikala harga Bitcoin melambung tinggi, begitu juga dengan koin lainnya, baik yang di hasilkan dari media sosial steemit yaitu SBD dan Steem mempunyai nilai yang sangat berharga.
Sehingga lahir karya-karya yang sangat luar biasa dari para stemian. Dan seiring berjalannya waktu terjadi berbagai macam polemik diantara para stemian yang ada di Indonesia, mulai dari perseteruan antara stemian Aceh dan stemian Indonesia sehingga melahirkan beberapa stemian yang tergabung dalam stemian Non Blok.
Perseteruan pun semakin menjadi, hingga pada topik penilaian terhadap sebuah karya. Hal ini juga membuat kewalahan dalam memberikan vote pada pekerjaan yang dilakukan oleh kurator Indonesia.
Muncul paradigma karya yang berkualitas dan karya yang tidak bernilai, muncul juga paradigma petani dan anak desa yang mencoba bersaing dalam berkarya dengan para penulis, muncul ke egoisan dan hiruk pikuk sebuah karya dari penulis dan motifator dengan para pengangguran yang menulis dengan cangkul tumpulnya.
Namun yang menjadi pertanyaannya, saat kondisi sekarang di mana harga Bitcoin dan koin lainnya yang semakin hari semakin menurun drastis. Dimanakah orang-orang yang mengaku stemian Aceh, Stemian Indonesia dan Stemian Non Blok. Atau dimanakah stemian yang mengaku penulis dan motifator dan kami yakin stemian yang mengaku petani berada di ladang atau sawah.
Tulisan ini lahir karena kami melihat para stemian yang dulunya aktif terhadap karya-karyanya, sekarang malah tiada yang tau di mana rimbanya, yang dulunya selalu berkoar-koar dengan karya-karya terbaik, sekarang malah mati suri di antara hidup dan mati atau bisa jadi sudah ditenggelamkan oleh menteri kelautan.
Lantas saat perseteruan tiada berdengung lagi, kami ingin mengulang pertanyaan yang sama yang dulu kami utarakan dan sampai hari ini belum ada jawaban.
Media sosial steemit, bisnis atau berkarya,,,,,???
Syamtalira Bayu, Jum'at 14 Desember 2018