Kukenalkan pada kalian seorang gadis kecil dengan hati seluas samudra. Dengan hatinya yang luas itu, ia mengarungi hidup yang jauh dari kata mudah. Namanya Nurul Amalia, usianya baru sembilan tahun. Kini ia tengah berjuang berperang dengan Leukemia limfositik akut alias acute lymphocytic leukemia (ALL) yang menggerogoti aliran darahnya.
Namanya sudah terlampau sering kudengar. Entah itu dari mulut ke mulut, entah dari status ke status di beranda media sosial. Tapi baru kemarin kami berjodoh untuk ketemu. Aku dan , datang ke Rumah Kita di Ulee Kareng untuk berkenalan dengan Nurul.
Nurul ini ibarat burung yang tak pernah kehabisan kosa kata untuk dikicaukan. Suaranya nyaring. Ia gadis kecil yang sangat ceria. Kepalanya kini telah plontos. Atas permintaannya, sisa-sisa rambut yang masih menempel di kepalanya ia minta agar dibabat habis. Efek kemoterapi yang telah belasan kali dijalani Nurul, berakibat langsung pada perubahan fisiknya. Khususnya pada rambutnya yang rontok.
Bertemu langsung dengan Nurul, membuang jauh-jauh asumsiku terhadap gadis kecil ini. Sebagai seorang pejuang kanker darah, ia sama sekali tidak terlihat lemah. Memang, ia tidak boleh terlalu kelelahan, tapi kicau suara nyaringnya menjadi simbol dari cerminan semangat di dalam jiwanya yang seluas samudra itu. Keceriaannya adalah simbol kekuatan. Bahwa yang menjadikan seseorang 'sakit' atau 'sehat' bukanlah terletak pada jenis penyakit yang di deritanya. Melainkan pada kumpulan semangat yang dipelihara di dalam dirinya.
Nurul yang sudah berbulan-bulan tinggal di Rumah Kita, harus rela tinggal berjauhan dari keluarganya di Kota Lhokseumawe. Duh, apalagi yang bisa kita katakan untuk anak sekecil itu, selain betapa hebatnya dia. Betapa kuat dan tabahnya anak itu. Aku sebagai mantan anak kecil yang selalu sakit-sakitan, paham betul arti pentingnya keluarga di tengah kondisi seperti itu.
Semoga Tuhan cepat mengangkat penyakitmu, Dik. Dan semoga cita-citamu terwujud. Dan senyum itu, teruslah bergelombang seperti riak lelautan yang tak pernah putus.[]