Ilustrasi foto dari befotowork/toteczious.deviantart.com
Jauh sebelum aku menemukan kata 'ulang tahun' dalam kamus hidupku, Mbah Lasimun sudah merayakannya jauh-jauh hari. Di tahun 90-an itu, ulang tahun Mbah Lasimun menjadi agenda tahunan yang ditunggu-tunggu. Ia selalu mengadakan atraksi kuda lumping atau kuda kepang untuk merayakannya. Atraksi ini menjadi magnet untuk menarik berduyun-duyun manusia mendatangi kediamannya di ujung Lorong Binjai. Ada dresscode bagi yang menghadiri perayaan ini; dilarang pakai baju merah!
Mbah (kakek) Lasimun ini konon pengikut Nyai Roro Kidul yang di kalangan masyarakat Jawa dikenal sebagai Ratu Laut Selatan. Di malam-malam tertentu, Mbah Lasimun melakukan ritual mistis untuk pemujaan. Pernah juga aku mendengar kabar kalau Mbah Lasimun ini tidak bisa mendengar azan. Barangkali ada kaitannya dengan 'ilmu' yang ia amalkan. Aku pernah beberapa kali melihatnya. Ia memiliki perawakan yang kecil. Saat itu mungkin usianya sekitar 60-70 tahun. Sebagai seorang sepuh yang mengamalkan ilmu-ilmu mistik, penampilan Mbah Lasimun jauh dari kesan menakutkan. Setiap kali melihatnya, aku justru fokus pada jari-jari kakinya yang tidak beraturan.
Mbah Lasimun juga dikenal sebagai pawang hujan. Warga sering memakai jasanya bila ada hajatan. Suatu kali, ada tetangga yang mengadakan pesta perkawinan anaknya di bulan dua belas. Ia memanggil Mbah Lasimun untuk 'menolak' hujan. Si Mbah pun beraksi, namun hujan tetap turun dengan lebat.
Menceritakan perihal Mbah Lasimun, tentu tak elok tanpa melibatkan Mbah Robot. Itu adalah nama yang dilakabkan kepada istrinya karena memiliki postur tubuh tinggi besar. Selayaknya robot, Mbah Wedhok (nenek) memiliki fisik yang kuat. Kabar bagaimana Mbah Robot mengangkut hasil panen kakao di kebunnya sudah menjadi rahasia umum.
Dengan kemasyurannya itu, wajar saja setiap kali Mbah Lasimun mengadakan atraksi kuda kepang berbondong-bondong orang datang ke hajatannya. Ini menjadi hiburan menarik bagi masyarakat yang tinggal di pelosok, di masa di mana televisi merupakan barang mewah. Bersama beberapa teman, aku juga pernah menjadi saksi hari ulang tahun Mbah Lasimun.
Suatu siang pulang sekolah beberapa bocah di Lorong Pelita sudah sibuk ingin menonton kuda kepang. Kami saling membuat janji, dan saling mengingatkan agar tidak pakai baju merah. Kalau ada yang bandel memakai baju merah, kalau 'dimakan' sama si kuda kepang jangan salahkan yang lain. Begitu kami tegaskan.
Ilustrasi foto dari tebuireng online
Siang itu matahari bersinar garang. Namun sedikit pun tidak menyurutkan semangat kami untuk melihat kuda kepang. Aku tak bisa mengingat lagi siapa-siapa saja yang pergi hari itu. Demi menghindari sorot garang sang surya, kami mengambil jalan pintas. Tidak melewati jalan umum, tapi memilih jalur belakang melewati kebun-kebun penduduk. Dengan begitu kami mendapat perlindungan dari rimbunan pohon-pohon kakao. Walaupun untuk itu kami harus melewati areal perkuburan setelah melewati kebun Wak Pardi. Mampu menggerakkan kaki-kaki kecil kami melintasi medan seperti itu.
Kami tiba di rumah Mbah Lasimun dengan wajah lelah dan badan penuh peluh. Bedak tabur yang kami oleskan di wajah sudah luntur. Ya, jarak yang kami tempuh memang tidak dekat, ditambah jalurnya berupa jalan setapak di areal kebun-kebun kakao dan kelapa. Sebagiannya berupa tanah kosong yang ditumbuhi ilalang. Magnet Mbah Lasimun ini memang luar biasa.
Beberapa pria dengan kostum khas langsung menarik perhatian kami. Mereka memakai celana selutut dengan motif-motif dari benang emas. Badan mereka hanya dilapisi rompi dengan motif senada, memperlihatkan kulit perut mereka. Kain batik dikatkan di pinggang mereka, untuk dikibas-kibaskan saat melakukan atraksi. Kami yang tadinya di belakang merangsek maju ke barisan depan agar bisa melihat dengan jelas. Ibarat para prajurit siap tempur, pria-pria itu siap beraksi dengan menunggangi 'kuda' yang terbuat dari anyaman bambu dan sudah dicat sedemikian rupa. Meski hanya benda mati, kuda ini juga memiliki bulu kuduk dan rambut ekor. Mereka juga memegang pelecut untuk melecuti kuda dan tubuh mereka sendiri.
Tak hanya dimainkan pria, kuda lumping juga kerap ditampilkan para pemudi. Foto dari shutterstock.
Panggung hiburan segera dimulai. Para penunggang kuda mulai melenggak-lenggok. Adrenaline penonton ikut terpacu dengan ritme gerakan mereka. Pada atraksi-atraksi tertentu penonton bersorak sorai. Gegap gempita. Lama-lama gerakan mereka semakin tidak beraturan. Mulai kesurupan. Kadang-kadang mereka mendekat ke arena penonton, membuat sebagian penonton khususnya kami yang masih anak-anak berteriak. Takut-takut penasaran. Mereka yang memakai baju merah perlahan-lahan berlindung di balik tubuh temannya agar tidak menarik perhatian si kuda kepang. Kata orang-orang kuda kepang ini paling anti melihat yang merah-merah. Aku meremas jari jemari karena ketakutan. Bagaimana kalau tiba-tiba aku diterkam oleh salah satu mereka.
Setelah mereka kesurupan, para penunggang kuda lumping itu mulai mengunyah beling. Tubuh mereka dilecut-lecut, tapi tak terlihat mereka meringis karena kesakitan. Para penonton menjerit, inilah klimaks dari pertunjukan seni rakyat yang berasal dari tanah Jawa itu. Aku bersyukur pernah menyaksikan langsung pertunjukan seni itu tanpa jauh-jauh harus ke Jawa.[]
Cerita sebelumnya bisa dibaca di sini:
https://steemit.com/indonesia/@ihansunrise/memoar-matahari-terbit-4-salamun
https://steemit.com/indonesia/@ihansunrise/memoar-matahari-terbit-3-aku-sudah-sekolah
https://steemit.com/indonesia/@ihansunrise/memoar-matahari-terbit-2-gadis-kecil-di-keranjang-rotan
https://steemit.com/indonesia/@ihansunrise/memoar-matahari-terbit-1-padang-peutua-ali