Ide tulisan ini muncul begitu saja, sesaat setelah saya duduk di kursi mobil yang empuk. Ceritanya malam kemarin, saya membawa ibu dan nenek mencari udara segar ke daerah Ulee Lheue. Sayapesanlah mobil ojek online untuk mengangkut kami, ditambah adik dan seorang tetangga, semuanya jadi berenam.
Sekonyong-konyong ingatan saya terbang jauh ke salah satu scene yang terjadi lima tahun silam. Saat saya pulang kampung, ada tetangga datang berkunjung. Kami mengobrol apa saja, hingga akhirnya dia bertanya mengenai pendapatan alias isi dompet saya. Saya menjawab namun tidak menyebutkan nominal. Ia rupanya belum puas, masih menodong saya dengan pertanyaan to the point. Berapa, tiga juta, lima juta? Saya tetap memilih untuk tidak menyenangkan hatinya dengan memberi jawaban pasti.
Di lain waktu, ada kerabat yang juga menanyakan perihal berapa pendapatan tetap saya. Bertahun-tahun saya tinggal dengannya, namun sampai besok pun saya yakin beliau tidak tahu berapa isi kantong saya.
Sebagian orang mungkin berpikir, ah, cuma itu saja mengapa sih harus dirahasiakan? Memangnya kenapa kalau orang lain tahu isi dompet kita?
Ayah saya almarhum adalah seorang pedagang. Walaupun tidak pernah diajarkan secara langsung, tapi saya pribadi banyak belajar dari caranya mengelola uang dan aset. Masih segar dalam ingatan saya, bagaimana kerasnya Ayah dan Mamak dulu menggali lubang untuk menanam bibit-bibit pohon kakao, kelapa, pinang, dan kelapa sawit. Sembari itu mereka juga bercocok tanam palawija yang masa panennya lebih cepat namun singkat.
Aku dan adik yang nomor dua sering diajak untuk membantu. Melakukan pekerjaan-pekerjaan ringan seperti mengisi polybag, mengangkut bibit, atau membantu memanen. Semua itu kami lakukan dengan hati senang dan riang.
Ketika kami mulai besar dan bersekolah, biaya hidup lebih besar, tanaman tua tadi mulai berbuah, ayah mulai berdagang untuk mencari penghasilan tambahan.
Ayah selalu menerapkan standar prioritas dalam mengelola uang. Barang-barang yang akan dibeli, sesuai kebutuhan atau kemauan? Dalam kacamata kami sebagai anak kecil, ayah adalah seorang yang pelit. Tapi setelah dewasa aku paham, titipan Tuhan memang harus dikelola secara baik.
Ayah, juga selalu mengingatkan kami dengan caranya, agar tidak pernah menampakkan diri sebagai orang 'susah' walaupun sebenarnya tidak berlebih. Misalnya, kami selalu dilarang untuk meminta-minta uang kepada paman ataupun saudara di musim hari raya. Kami juga dilarang meminta uang pada ayah selain di luar rumah. Pun ibu, dulu, ketika misalnya habis belanjaan di rumah, tak pernah mengeluh atau menceritakan kepada orang-orang terlebih keluarga. Ibu selalu mengingatkan, tak perlu orang lain tahu kesusahan kita.
Di lain waktu, ada salah seorang sahabat yang juga turut mengingatkan. Kita perlu bersikap dan berlagak sama, baik ketika dompet bengkak maupun ketika dompet kempes. Aku setuju dengannya. Sebab ini menyangkut dengan 'harga diri'. Jangan sampai ketika rejeki lancar kita jadi sombong, bicara setinggi pohon pepaya, lupa kalau isi dompet sewaktu-waktu juga bisa defisit. Tapi juga jangan sampai ketika rejeki mentok, kita kehilangan gairah hidup. Setiap bertemu orang mengeluh dengan muka lesu. Kalau memang harus diungkapkan, ungkapkan pada orang yang tepat, agar bisa dicarikan solusi mungkin.
Nah, bagaimana dengan di platform ini yang memungkinkan kita bisa melihat dompet orang secara transparan? Konon lagi mengkalkulasikannya secara diam-diam. Kalau saya memilih untuk tidak melakukannya. Sebab mengintip-intip dompet orang lain tidak akan menambah dompet saya hehehe.[]