Tantangan dari rencana menerbitkan antologi tunggal ini bukanlah pada naskahnya. Terus terang, ide menerbitkan buku ini muncul secara spontan. Lalu saya sampaikan pada , dan jawabannya sungguh membuat hati saya mangkak. Melibatkan
, kami lantas membicarakan ide tersebut secara serius.
Sebagai seniman rupa, punya ide-ide kreatif tak terduga. Bahkan tak terpikirkan oleh saya. Misalnya, alih-alih menawarkan diri membuat ilustrasi-ilustrasi untuk melengkapi naskah saya, eee...dia malah menodong saya untuk membuatnya sendiri. Pertama kali mendengar ucapan itu muncul dari mulutnya, hati saya kecut, mendadak ciut. Duh... saya kan tak pernah menggambar.
Tapi ya...sama seperti energi yang sudah saya habiskan untuk mengumpulkan naskah-naskah itu selama belasan tahun, saya pun akan mendedikasikan energi saya untuk menerima tantangan dari . Saya ingin menikmati setiap prosesnya. Nanti, ketika buku itu benar-benar berwujud, proses itu pasti akan memberikan kompensasi dalam bentuk yang berbeda. Mungkin semacam kepuasan pribadi yang saya belum bisa terka seperti apa rasanya saat ini.
Lagi pula, saya merasa tantangan ini seperti jawaban atas keinginan saya. Baru beberapa hari yang lalu saya berniat untuk belajar menggambar. Niat itu lalu saya tuliskan sebagai komentar di salah satu postingannya . Eee.... sore tadi malah saya sudah praktik. See, adakalanya keinginan kita begitu cepat dikabulkan Tuhan. Lalu mengapa kita masih takut-takut meminta dan memohon kepada-Nya?
Petang kemarin saya mampir ke Bivak Emperom di luar rencana. Niatnya sih cuma mau main-main saja. Sama sekali tanpa tujuan. Tapi saya malah ditodong oleh ; ada bawa kertas?
Aih... mati eikehhh
berinisiatif cepat. Tak lama temannya datang menyodorkan beberapa lembar kertas polos. Kertas itu kemudian diberikan pada saya oleh
berikut drawing pen dan sebuah pensil. Sayangnya saya sudah lupa apa yang diucapkan
tadi. Yang saya ingat, kemudian saya masuk ke 'dalam', duduk di kursi kayu panjang, menaruh selembar kertas di atas meja. Dan, mulailah saya menggambar. Tentunya setelah
memberi kisi-kisi.
Saya mulai menggambar, membuat pola-pola berupa kotak, bulatan, dan segitiga. Kemudian di dalamnya mulai saya coret-coret, sesuai imajinasi yang ada di pikiran saya. Ya ampun, baru saya tahu ternyata imajinasi saya mengenai aktivitas yang satu ini sangat kering. Lihatlah gambar di bawah ini, untuk durasi waktu yang lebih dari satu jam, saya cuma menghasilkan gambar seperti ini. Waktu saya tunjukkan kepada , saya nyaris tak berani menatap gambar-gambar itu.
Tapi saya menikmati prosesnya. Ingatan saya justru melayang ketika masa-masa SD dulu. Gambar 'meukuwet-kuwet' yang sepintas mirip motif Aceh itu, adalah bentuk imajinasi yang paling sering saya gambar di balik sampul buku tulis. Sejak kecil saya memang pengkhayal kelas berat. Belakangan saya sadari, kebiasaan itu yang mengantarkan saya menjadi penulis. Kebiasaan yang masih saya 'pupuk' sampai sekarang. Dan inilah yang membuat saya betah berlama-lama sendirian di suatu tempat. Karena itu artinya, kau bebas mengkhayal tanpa ada siapa pun yang akan merecoki.
Saat mengayunkan pensil dan pulpen kemarin sore, saya juga jadi teringat, kalau dulu saya pun sering 'mengotori' buku saya dengan gambar-gambar tak berupa seperti di atas. Mungkin karena tidak terasah, dan saya tidak 'ngeh' kebiasaan coret-coret itu pun hilang dengan sendirinya. Saat SMP, saya lebih sering membuat kreasi gambar berupa huruf-huruf seperti rangkaian nama. Lalu saya cat dengan cat air. Kreasi gambar huruf itu masih saya lakukan sampai sekarang, sesekali, jika ingat dan merasa perlu ha ha ha.
Karena penasaran, pulang dari latihan Aikido malam tadi, saya kembali mencoba mencoret-coret. Walaupun badan sebenarnya sangat capek, tapi kalah oleh gebu yang masih meletup-letup ini. Semoga sampai proyek ini selesai, gebu semangat saya masih tetap seperti ini.
Saya masih menggambar tanpa konsep. Ceritanya, ingin membuat doodle yang kabarnya sedang tren saat ini. Kata ilustrasi berupa doodle cocok untuk melengkapi naskah-naskah saya yang surealis. Pendek kata, coret-coret sembarang pun bisa jadi ilustrasi. Ini sedikit memberi angin segar buat saya hehehe.
Setelah kertas terbentang, pulpen dan pensil siaga, yang terpikir di benak saya adalah menggambar daun. Maka segera saya ambil ponsel, mencari-cari foto daun jatuh yang saya jepret di Bivak Emperom sore kemarin. Ini saya anggap sebagai titik sentral dari doodle yang akan saya buat nanti.
Mengikuti saran , saya hanya membuat gambar apa saja yang muncul di kepala. Dan untuk gambar yang seperti ini, setidaknya hampir dua jam waktu yang saya habiskan. Duh.... beginilah kalau pemula baru mulai angkat pena, ya. Tentu beda dengan mereka yang sudah mahir, cuma sret, sret, sret, jadi deh.... Tapi saya senang, setidaknya sudah agak lumayan. Sudah bikin enak mata kalau dilihat. Entah iya pun.
Kata , jika aku terus mencoba, nanti aku akan menemukan cara sendiri dalam menggambar, sama seperti cara yang kutemukan saat menulis. Dan, kata dia, menggambar adalah proses menyatukan tiga hal pada saat yang bersamaan; tangan, mata, pikiran.[]