Setiap sudut tanah Aceh memiliki wujud eksotisme yang berbeda. Pemandangan laut yang memesona dari ketinggian puncak Geurutee ini misalnya. Adalah sekeping torehan surga yang dimampirkan Tuhan ke Bumi. Pertengahan tahun lalu usai lebaran Idul Fitri, saya dan keluarga sengaja datang ke sini untuk menikmati pemandangan itu.
Tak jauh dari Banda Aceh, mungkin sekitar 50-60 kilometer. Bisa ditempuh lebih kurang satu jam perjalanan dengan kendaraan roda empat. Menyusuri jalur sepanjang pesisir menuju barat selatan Aceh ini adalah pengalaman yang memberi kesan tersendiri.
Di sisi kiri dan kanan kita bisa menyaksikan pemandangan yang berbeda. Di sebelah kiri didominasi warna hijau dan perbukitan. Di sebelah kanan biru laut berombak yang berujung pada kaki langit. Kompleksitas seni mahakarya Sang Kuasa. Saling bertolak belakang, tetapi saling melengkapi, saling berpadu. Dan jalan mulus yang dibangun dengan dana dari USAID itu adalah tempat paling cocok untuk menikmati keduanya.
Kami berangkat usai zuhur dari Banda Aceh. Kebetulan saat itu sedang musim rambutan. Di perjalanan kami sempat berhenti di suatu tempat untuk membeli rambutan. Beberapa warga juga terlihat menjajakan duriannya di pinggir jalan di beberapa titik terpisah.
Saat menuliskan ini, tetiba saya jadi terbayang kegilaan seorang teman. Pesepeda juga. Yang nekat bersepeda sendirian dari Banda Aceh menuju Geurutee dengan bekal sebotol air mineral. Adakalanya menjadi gila adalah kesenangan tersendiri.
Tiba di puncak Geurutee kami segera merapat ke salah satu kedai yang ada di sana. Sepi. Mungkin karena masa libur sudah usai. Kami jadi bebas mau duduk di kedai yang mana. Tapi karena pertimbangan yang lebih strategis, kami memilih kedai yang berada pas di puncak bukit. Di sini mata kita bisa dengan bebas dan liar memandangi setumpuk pulau di kejauhan di laut. Itulah Pulau Lamsujen.
Lamsujen awalnya bagian dari daratan, kemudian terpisah dan menjadi pulau setelah tsunami 24 Desember 2004. Mendengar cerita ini dari pemilik kedai membuat hati bertasbih memuji kebesaran Tuhan. Dulu di sekitar sini ada pemukiman penduduk bahkan ada gedung Sekolah Dasar.
Kedai ini dikelola oleh sepasang suami istri. Segera mereka melayani kami dengan ramah. Mereka menawarkan menu-menu sederhana yang tersedia di sana seperti mie instan, kopi, dan aneka minuman sachet. Saya sendiri memilih segelas kopi hitam dan semangkuk mie instan rebus.
Hari itu yang dibaluri sedikit mendung, pilihan kopi dan mie instan menjadi menu yang komplit. Saya melahap keduanya secara bergantian dengan nikmat. Bagi saya, kopi selalu memberikan sensasi nikmat yang berbeda. Walaupun kopi yang tersedia di sana adalah kopi tubruk yang berampas.
Bagi saya, kopi bukan sekadar minuman penghilang kantuk. Tetapi pembangkit imajinasi dalam melahirkan anak-anak imajinasi. Setiap teguknya adalah cerita yang tak pernah menemukan ending.[]