Judul bukunya, A Doctor in the House, dipilih dengan sangat baik. Sejurus saya berfikir tentang isinya yang mungkin adalah bagaimana seseorang mengendalikan sesuatu cukup dari rumahnya saja. Ya, mungkin ini pemahaman pembawa awam seperti saya.
Lembar demi lembar saya buka dan telusuri dengan sangat hati-hati. Mungkin karena terlalu berhati-hati inilah yang menyebabkan buku ini belum selesai dibaca hingga sekarang, hehe 😀
Buku ini saya dapatkan langsung dari tokoh utama yang ada didalamnya, dipermanis lagi dengan goresan tanda tangan yang beliau torehkan, melengkapkan kenangan pada satu pertemuan penting beberapa tahun yang lalu
Kawans steemian, ternyata buku ini bercerita tentang riwayat hidup yang dapat menjadi genre menarik karena memberi pembaca satu wawasan yang unik ke dalam kehidupan individu, yang mungkin atau tidak akan meninggalkan dampak pada masyarakat tempat mereka tinggal.
Buku ini mengulas tentang riwayat hidup seorang Mahathir Mohamad, yang selama 22 tahun melayani Malaysia sebagai Perdana Menteri. Banyak artikel dan buku telah ditulis tentang Mahathir dan berbagai aktivitas panggung politiknya baik di dalam maupun di luar negeri. Namun buku inilah yang mampu merangkum semuanya.
Dimulai dengan kelahirannya pada 10 Juli 1925, berlanjut dengan beliau mengambil alih sebagai perdana menteri pada 27 Juni 1981, dan berakhir dengan beliau menyaksikan upacara pelantikan Tun Abdullah Ahmad Badawi sebagai penggantinya pada 31 Oktober 2003.
Mahathir adalah seorang Melayu yang taat, yang sangat prihatin tentang sesama orang Melayu. Di sini kita berada di inti buku ini. Selain menjelaskan kisah hidup dan karirnya yang sangat mendetail dan mempesona, cerita juga berfokus pada masalah Malaysia yang paling abadi yaitu mengacu pada hubungan antara tiga kelompok etnis utama di negara ini, Melayu, Cina dan orang India.
Mahathir menyesalkan nasib orang Melayu dibandingkan terutama pada Cina. Dari menjadi penguasa asli wilayah Melayu, orang Melayu dipaksa untuk menerima penjajah Inggris, yang kemudian memperkenalkan Cina sebagai semacam penyangga antara mereka dan sultan Melayu. Orang-orang Cina tumbuh dari masyarakat yang lemah untuk menjadi kuat kekuatan ekonomi, meminggirkan orang Melayu dalam prosesnya.
Mahathir dengan proyek politik sepanjang kariernya membalikkan situasi ini dengan mengembalikan mereka ke apa yang ia anggap sebagai kemuliaan sebelumnya dari orang Melayu.
Dan tindakan yang ia lakukan, menurut pemahamannya, bukan dengan mengorbankan orang Cina atau India, tetapi dengan menginstal ulang orang Melayu pada posisi yang tepat dalam masyarakat Malaysia, mengangkat mereka dari persepsi yang dipaksakan sendiri menjadi miskin, terbelakang dan tidak dihormati di negara mereka sendiri.
Perhatian terbesarnya dalam konteks ini adalah pola pikir orang Melayu. Bukan yang dikembangkan selama era Inggris melainkan asli pola pikir pribumi yang berupa kesopanan, ketaatan dan kelembutan. Karena itu orang Melayu harus menemukan kembali diri mereka untuk mendapatkan kembali posisi kemasyarakatan yang tepat.
Pemulihan diperkenalkan setelah kerusuhan rasial di Kuala Lumpur pada 13 Mei 1969, di mana orang-orang Melayu dan Cina saling berkelahi dalam pertemuan yang mematikan. Salah satu tema utama dari Ekonomi Baru Kebijakan (NEP), yang dimulai pada tahun 1971, adalah mempersempit kesenjangan sosial-ekonomi antara orang Melayu dan dua kelompok etnis lainnya.
Di bawah NEP, Undang-Undang Industri tahun 1975 menuntut perusahaan-perusahaan yang bukan milik orang Melayu mengalokasikan 30 persen dari saham mereka kepada etnis Melayu untuk melibatkan mereka bisnis. Kebijakan ini, yang disebut program tindakan afirmatif.
Demikianlah sedikit isi buku yang memang sangat fenomenal pada awal masa penerbitannya, tahun 2011 lalu.
Oh ya steemian, ada sedikit tambahan cerita lain. Situasi panas pelaku pasar di tanah melayu seperti yang diceritakan dalam buku diatas tadi, ternyata telah membuka peluang kepada pendatang asing untuk mengembangkan perekonomian di Semenanjung Malaysia.
Nahhh, orang-orang aceh yang terbiasa berlayar di Selat Malaka dan singgah di berbagai daerah pesisir melayu menangkap peluang ini sebagai salah satu cara ekspansi perdagangan.
Awalnya etnis Aceh yang berdagang kesana hanya berniat membawa hasil bumi Aceh sebagai komoditas yang diperjualbelikan. Akan tetapi karena penerimaan masyarakat melayu terhadap etnis Aceh yang luar biasa pada masa itu menjadikan pedagang pendatang ini sebagai pelaku pasar yang akhirnya menetap disana.
Bulan demi bulan, tahun demi tahun berganti, dan beberapa sentra penting yang menjadi pusat pergerakan ekonomi cina berhasil dikuasai pendatang etnis Aceh.
Bahkan beberapa tempat yang memiliki nama khas Cina kini sudah berganti sebutannya menyerupai selera ucapan orang Aceh. Contohnya satu kawasan perdagangan terbesar di pusat kota Kuala Lumpur yang memiliki nama asli Chow Kit, kini masyarakat lebih mengenalnya dengan sebutan Coket.
Begitulah sekilas tentang sepak terjang pendatang Aceh yang kini sudah menyatu menjadi melayu pribumi kerana sudah mendapatkan pengakuan dari pemerintah disana.
Kawans steemian, sampai disini dulu ya ceritanya. Lain waktu kita sambung lagi …..