Bireuen sejak lama telah dikenal sebagai kabupaten penghasil buah rambutan, saat musim rambutan tiba tak jarang keadaan ini selalu di manfaatkan masyarakat sekitar Juli melakukan pemaneman bersama dalam skala besar. Seringkali pemilih pohon rambutan disini menjual sendiri dan di jual kepada agen penampung buah agar distribusikan ke daerah-daerah lain. Seperti namanya, buah yang memiliki khas dan tekstur kulit nya yang berbulu ini memiliki bentuk yang lembut dan rasa yang manis. Sangat menyegarkan bila bisa menikmatinya disaat cuaca panas, sehingga disukai oleh kebanyakan anak-anak.
Musim kali ini saya bersama dan anak-anak Balai Baca ikut menikmati panen rambutan, ini seperti pestanya anak-anak di pedesaan (bahasa aceh: gampoeng). Beruntungnya beberapa pohon rambutan yang sejak awal ditanam di sekretariat Balai Baca tumbuh subur dan berbuah lebat. Biasanya setiap sore anak-anak datang bergerembolan ke Balai Baca menikmati buku-buku yang mereka senangi sembari belajar bersama beberapa relawan, namun kali ini kami membuatnya sedikit berbeda dengan pesta rambutan.
Anak-anak punya keahlian sendiri apalagi soal memanjat pohon, mereka bahkan berebutan untuk memetik buah ini langsung dari pohon nya yang cukup besar. Kepolosan dan keberanian anak-anak seusia mereka terkadang mengingatkan kita tentang nostalgia masa kecil dulu yang suka buat kekonyolan, apalagi bagi yang waktu kecil suka sembunyi-sembunyi memanjat pohon rambutan tetangga dengan temannya saat berbuah, tak elak kadang harus kabur terbirit-birit saat sipemilik pohon tau. HAHAHAH.....sembari tersenyum dalam hati. Ya, itulah segelumit kenakalan masa lalu, yang kemudian kita sadar pernah melakukan kesalahan.
Kesempatan ini pun tidak kami sia-siakan untuk mengabadikan nya dalam sebuah potrait. Tanpa menunggu lama anak-anak pun menikmati buah rambutan yang mereka petik sendiri. Menurutku, menemukan dunia anak-anak yang seperti ini sangatlah sulit saat ini, punya semangat untuk belajar dan mau berusaha. Sayangnya mereka harus tumbuh dan bertahan ditengah kepungan teknologi yang sangat mudah meracuni kepolosan dan keberanian mereka nantinya.
Dunia anak-anak selalu menyenangkan, beruntung bagi siapa saja yang bisa menikmati situasi seperti ini. Kesederhanaan dan lingkungan alam membentuk mereka untuk bisa mandiri lebih awal disaat usia yang relatif dini. Mereka bisa ceria bersama hanya cukup dengan rambutan dan buku-buku,,, se simple itu guys.