"Masa lalu adalah masa lalu, tak usah dihindari atau kautolak. Masa lalu akan menjadi penasehat yang baik. Tidak ada gunanya kau sesali. Biarlah itu hadir sebagai aliran yang membawamu pergi ke tujuan yang lebih baik. Terimalah kenyataan, dan terus hidup dengan melakukan apa yang benar dan menyenangkan." - Dilan, 1991
Photo by Smart on Unsplash
Terjebak dalam romantisme masa lalu adalah penyakit yang kronis yang tidak akan membawa kemana-mana. Masa lalu telah terjadi, pena-pena telah kering, amalan sudah terangkat. Waktu terus berputar.
Melihat kembali perjalanan hidup, kadang terasa aneh dengan betapa cepatnya waktu berlalu, betapa momen kekinian menjadi semakin cepat hilang dan menjadi masa lalu.
Apalagi momen-momen lima atau sepuluh tahun yang lalu. Anak muda bersemangat dengan target-target mereka, orang tua sudah mulai menyesali masa lalu dan menyesali tujuan-tujuan yang tak pernah tercapai.
Menjaga kesedihan adalah ironi, karena katanya, waktu terus berjalan, tak peduli bagaimana mood hatimu, senang atau sedih, waktu tetap berjalan, ada yang bilang waktu adalah obat yang paling ampuh menyembuhkan luka.
Kenyataan adalah sekarang, di sini, di tempat ini, momen kekinian yang harus secara sadar dijalani, bukan masa lalu, kalau kamu dulu seorang yang hebat, maka itu adalah dulu, sudah selesai.
Tempat kamu sekarang, di sini, di tempat ini. Bukan di sebuah tempat dalam alam memori yang sudah lama menjadi cerita, tak ada lagi momentum di sini, yang ada adalah sejarah.
Seperti sepenggal ungkapan yang saya petik dari bukunya Pidi Baiq di atas..
Terimalah kenyataan, dan terus hidup dengan melakukan apa yang benar dan menyenangkan.
Terimalah, jalanilah... teruslah hidup menjadi bermanfaat dan menyenangkan, kalau pun cita-citamu untuk mengubah dunia tidak tercapai, cobalah menjangkau lingkup yang lebih kecil, rubahlah diri dan orang-orang di sekitarmu.
Hadirkan dirimu dan rasakan mereka, hiduplah dalam satu tarikan nafas mereka, karena hidup dalam hembusan nafas masa lalu adalah kegilaan.