Kehidupan bukanlah sekedar duka yang kerap menyayat hati, namun adakalanya kita berhak mendapatkan suka yang menggelitik hati, dengan humor misalnya. Saya hanya ingin mengatakan bahwa humor itu penting dalam kehidupan. Konsentrasi manusia untuk menanggapi sesuatu yang serius paling lama 15 menit. Setelah itu jika tidak diselingi dengan bercanda rasa kantuk biasanya segera menjadi teman setia. Jadilah tempat duduk sebagai “kamar” tidur yang seolah nyamannya bak hotel bintang 5.
Tentu tidak baik jika humor berlebihan kemudian menjadikan kita lupa diri dan ketawa sejadi-jadinya. Dalam konteks bercanda, yang perlu dikritisi adalah humornya sudah sesuai standar atau terlalu berlebihan. Apalagi jika humornya lebih bernuansa membicarakan orang lain. Itu tentu bukanlah sesuatu yang diafirmasikan oleh agama manapun.
Dalam sebuah seminar, seorang professor psikologi bertutur bahwa ciri orang cerdas adalah yang pandai (ber)humor. Tentu bukan sembarang humor yang dimaksudkan. Ada sisi kecerdasan pula yang ditampilkan dalam humor tersebut. Sehingga, wajar kalau yang pandai humor memang orang yang cerdas. Pertanyaannya, sudah siapkah kita mengedepankan humor yang cerdas dalam kehidupan?
Humor sendiri sebenarnya disajikan untuk mewujudkan dinamika dalam kehidupan. Bahwa perihal yang menyenangkan membuat kita bahagia. Demikian mood yang awalnya kusut dapat kembali normal. Jika sudah normal maka saat itulah kita siap untuk menangkap sesuatu dengan serius kembali. Jadi, pertukaran keadaan itu yang membuat kita maksimal dalam memperoleh arti kehidupan.
Humor memang mengundang tawa. Namun, tidaklah pantas pula kalau kita hanya terhanyut dalam dunia tawa. Pasalnya, hidup ini bukan disediakan sebagai panggung tertawa belaka. Di balik tertawa kita, ada hal positif yang selaiknya memantik semangat hidup. Dengan humor kamudian kita tertawa karena kita optimis menatap kehidupan. Dengan begitu, kita akan tertawa bahagia karena-Nya.