Tulisan ini bisa menjadi pertimbangan bagi para istri dalam mengubah perspektifnya terhadap suami. Bisa pula dijadikan bahan pikiran bagi para pemuda yang ingin segera menjadi suami.
Menjadi suami itu berat, tidak hanya harus sanggup menggendong badan istri yang terkadang otomatis semakin gemuk, namun harus mampu pula menanggung semua dosa istri dan anaknya (hingga baligh).
Suami itu harus kuat pikiran dan raganya. Tetap fokus memenuhi keperluan pokok rumah tangga sekaligus melindungi keluarga dari ancaman dunia luar. Jadi, hasil pemikirannya bisa jadi terkesan lambat dalam beraksi karena harus ekstra hati-hati memprediksi kemungkinan terburuk dari setiap keputusan.
Ketahuilah para istri, bukan tidak mengerti posisimu bisa mengambil kebijakan dengan baik. Hanya saja, hasilnya tidak memenuhi kadar logika lebih dari 60%. Melangkahi perhitungan ala kalkulator.
Kadangkala masuk akal kalau kami sebagai suami dianggap keras kepala. Bagaimana tidak? Sang kholik menciptakan sedikit kepribadian pemimpin di diri kami. Tak jarang usulan yang tidak masuk akal akan ditolak mentah-mentah.
Lagipula, setelah perjanjian pernikahan kami selalu dicocoli dengan setiap dosa anak istri akan kami tanggung. Jadi kenapa para istri dan anak sering tidak mematuhi keputusan suami yang tidak melanggar syariat?
Dunia modern yang membujuk istri lebih memilih menjadi wanita karir juga keterlaluan. Dengan keberadaan uang yang mumpuni, suami kurang berpengaruh lagi. Karena uang ini pula, seolah-olah posisi pemimpin bisa digoyahkan.
Padahal, imajinasi kehidupan baru di rumah tangga tidak selalu indah. Ingatlah para istri! Suami itu tidak hanya dimengerti sebagai teman hidup. Suami juga harus dipahami sebagai pemimpin hidup dan harus dipercaya untuk mengarahkan kehidupan bersama meskipun di awal menurutmu tidak sesuai harapan.