Aku menemukanmu dalam sepi yang riang
Tergigil kaku dalam balutan asa yang gamang
Kosong tanpa binar terang
Diam, tergugu atau malu?
Tertunduk sayu
Aku tak sanggup meraih tanganmu
Terlalu dini aku membuat keputusan
Namun tak jua sanggup aku melepaskan
Netramu meredup pelan
Mengiba belas kasihan
Kamu adalah kabut dalam penantian panjang
Tidakkah kau jenuh dalam kesendirian?
Atau terusik oleh pekatnya mega dan senja
Yang selalu mengusikmu bergantian
Kabut yang malang ....
Jangan pernah berharap ada tangan yang menyambut
Selama keegoan bertengger atas namamu, kabut
Mentari akan menyapu lenyapkanmu
Dalam ego yang kemarin kau agungkan di hadapanku
Kabut yang malang
Yang mengharap mahkota dari tangan-tangan malam
Hening
Sepi adalah teman ketika kau tak pernah mau berjalan
Menyambut fajar yang selalu mengajakmu bergandengan
Atau kau akan diam terpaku, membeku
Menikmati tajamnya belati dalam ulu hati
Taiwan, 24 Juni 2018