Assalamu'alaikum Wr. Wb
Apa kabar? Saya berharap Anda semua dalam keadaan sehat wal'afiat. Walau pun kondisi Indonesia saat ini sedang duka akibat terjadinya kasus kekerasan bersenjata yang dilakukan oleh kelompok teroris, tetapi saya berharap kita semua tetap menjalankan aktivitas sehari-hari. Semoga para korban aksi terror mendapatkan tempat yang layak disisi-Nya.
Malam ini saya baru sempat membuka laptop dan bermaksud melanjutkan posting liputan kegiatan "Pameran Karya Seni Siswa SMAN 5 Cimahi 2018". Pameran yang mengusung tema "Menggapai Mimpi, Meraih Prestasi Melalui Seni" tersebut sudah dilaksanakan beberapa waktu yang lalu, tepatnya pada Senin, 7 Mei 2018.
Fokus postingan malam ini adalah seputar aksi melukis cepat yang dilaksanakan oleh Rusli Anam - seorang pelukis yang pernah memperoleh penghargaan dari MURI. Kebetulan dalam kegiatan pameran di SMAN 5 Cimahi tersebut, Rusli diundang oleh pihak sekolah untuk ikut memeriahkan acara dengan aksi melukis sketsa wajah para tamu undangan.
Seniman yang akrab dipanggil Kang Rusli ini saya kenal beberapa tahun yang lalu. Saya mengenalnya melalui teman saya Kang Bahar Malaka - pelukis eksentrik berambul gimbal asal Cimahi. Sehari-harinya Kang Rusli biasa mangkal di studio mininya dibilangan Gedung Braga City Walk, Jalan Braga Bandung.
Tiga tahun silam, tepatnya pada 2015 Rusli, seniman yang sering menggunakan topi pet ini kembali memperoleh penghargaan dari ORI (Original Record Indonesia) saat dia membuat sketsa 70 wajah dalam waktu 70 menit yang dilaksanakan di Jalan Cikapundung, Kota Bandung.
Dalam even pameran di SMAN 5 Cimahi kali ini Kang Rusli bukan dalam rangka memecahkan rekor, melainkan dalam rangka memberi dukungan kepada para siswa yang sedang ikut pameran, terutama siswa yang hobi melukis. Kang Rusli ditempatkan di sebuah ruang kelas yang sudah disulap menjadi tempat pameran sekaligus tempat dirinya berkarya.
Beberapa karya siswa SMAN 5 Cimahi terpajang rapi di dinding kelas. Karya tersebut terlihat menarik. Bentuk lukisan mereka pun terlihat sangat beragam.
Sebelum melaksanakan aksinya kembali, Kang Rusli saya ajak melihat dan mengkritisi beberapa karya siswa yang ada di ruang pamer tersebut. Kang Rusli pun mengajak saya mengamati satu persatu lukisan para siswa dan memberikan pendapatnya terhadap beberapa karya mereka.
Saat mengamati lukisan karya Sheryl, siswa X IPS 4, Kang Rusli mengatakan bahwa karya siswa yang satu ini lebih cukup bagus.
"Kecendrungan anak-anak IPS itu suka bergaul. Otak kanannya lebih jalan. Kalu boleh saya nilai, sehingga karya yang dilahirkan memiliki sebuah nilai filosofi. Ini simbol-simbol yang dia gambarkan melalui karyanya. Ada bentuk manusia berbentuk siluet, di dalamnya ada orang yang sedang berenang. Hanya dia yang tahu maknanya. Yang jelas ada pesan di dalamnya," ujar Kang Rusli dengan agak serius.
Menurut Kang Rusli, lukisan semacam itu termasuk kategori lukisan modern yang bisa disebut modern art, pop art atau pop surealis.
"Anak-anak sekarang itu sudah punya nilai dalam dirinya. Ini yang perlu bimbingan dan perlu diarahkan agar mereka tidak terputus sampai di sini dalam berkarya," tambahnya.
Menurut Kang Rusli, dengan melukis seorang siswa akan menemukan jati dirinya, sehingga mereka tahu akan kemana mereka akan lari atau mengambil jurusan berikutnya dalam bidang seni.
"Contohnya ini gambar bangunan. Dari sini mereka tidak sadar bahwa mereka belajar perspektif yang note bene dasar dari sebuah ilmu arsitek. Padahal mereka sendiri masih bersekolah di sekolah umum, bukan jurusan senirupa atau ilmu teknik. Tapi di sini mereka belajar dari apa yang mereka lihat, mereka akan tahu bahwa inilah dunia garis. Inilah dunia senirupa," ujar pria yang selalu tersenyum sumringah tersebut ketika mengamati sebuah gambar perspektif karya salah seorang siswa SMAN 5 Cimahi lainnya.
Usai mengamati dan mengomentari beberapa karya seni para siswa, kang Rusli kembali didaulat oleh Drs. Dedi Supriyadi - Guru Seni SMAN 5 Cimahi yang juga sebagai pencetus acara pameran - untuk melukis sketsa wajah pak Agus Ahmad Benyamin, S.Pd. - Wakil Kepala SMAN 5 Cimahi Bidang Kesiswaan. Pria berkumis tipis inipun akhirnya mengambil posisi duduk dan siap menjadi objek lukisan Kang Rusli selanjutnya.
Setelah melukis sketsa wajah Pak Agus, saya pun tak mau ketinggalan ikut dibuatkan sketsa oleh Kang Rusli. Rasanya kurang afdol kalau wajah saya tidak diabadikan oleh pelukis top asal Bandung ini. Tentu saya saya dilukis sambil mengobrol, ditemani oleh sahabat kami, Kang Bahar Malaka.
Sebelum kami bubar, acara ditutup dengan foto bersama dengan teman-teman lainnya.
Semoga bermanfaat.
Salam pena kreatif