Enyahlah, mengenyahkan atau memilih dienyahkan?
Kadang jiwa terpana akan harga yang mempesona segelintir orang berpendapat aku harus enyah karena kehadiranku mereka anggap sebagai saingan, bahkan lawan.
Aku duduk termenung bersama laptop tua, android keluaran China yang selalu menemaniku kesana dan kemari, tegap langkahku menyusuri hari-hari kadang berlari kadang berjalan, selalu bersama bayang yang menjadi halang bak palang tol yang di jaga oleh satpam, Aku masih terus menyusuri jalan-jalan yang terkadang gelap, terkadang terang bahkan remang-remang.
"Aku ingin enyah, kawan! Sebelum aku di enyahkan", ucapku pada si Garra.
Garra melihatku dengan tatapan kebingungan, dia sendiri terkejut dengan kata-kataku.
Tanpa bertanya satu patah kata dia berlalu tanpa pamit kepadaku, dengan meninggalkan kopi yang masih hangat di atas meja, di warung kopi sederhana tempat kami sering bertatap mata ketika masalah kian meruncing.
Gara memang terkenal pendiam, jika dia sedang marah, sering pergi meninggalkan orang, memang sudah begitu sifatnya. Aku paham betol akan itu, karena itulah selalu kuurungkan niatku untuk melarang setiap kali dia pergi secara tiba-tiba.
Kokokan ayam menandakan pagi, deru mesin sepeda motor selalu mengalahkan suara ayam yang sedang berkokok, berkejar-kejaran dengan dengan matahari, mereka harus sampai sebelum matahari terbit, tetiba saja android Chinaku berbunyi lantang menghantam sunyinya pagi, panggilan itu dari si Garra, "Aku sekarang lagi di warkop tempat biasa, jika ada waktu, Aku menunggumu di sini", Pembicaraan singgkat yang kujawab dengan singkat pula "baiklah" karena biaya nelpon yang semakin meninggi semenjak zaman internet semakin mudah di akses. Ku bawa badan ini bersama rasa malas di hari minggu, ku jumpai dia dengan semangat, untuk menyelesaikan bicara tentang "enyah" yang belum selesai.
Laptop dengan posisi terbuka di hadapan di Garra, hanya bola matanya dan jemari pada mouse yang bergerak-gerak.
Tampaknya dia sedang membaca sesuatu.
"Ah, sudah datang kau rupanya, bagaimana tentang keenyahanmu itu?" Tanyanya yang to the poin membuat Aku terkejut.
"Sebenarnya Aku masih tetap ingin enyah, dan mencari sensasi baru, dunia baru, yang tak keruh dan sempit seperti ini, keenyahanku akan membuat mereka damai. Atau kau menunggguku dienyahkan?"
Sesekali ku lihat wajah Garra, kali ini dia tak begitu peduli akan kata-kataku, seakanengabaikan setiap ucapan yang keluar dari mulutku.
"Begini, kau boleh enyah tapi apakah engkau mau enyah sendiri? Bagaimana dengan mereka? Si Suwai, si Her, si Ghai, dan beberapa orang lagi di sana yang masih ingin engkau berada di sini?"
Tanyanya seakan membuatku mulai ragu sekarang, meski terkadang aku bosan, dan lelah berada di sini.
Belum sempat kujawab, semua pertanyaannya yang seolah itu pernyataan, si Garra menutup laptopnya dan menyambung pembnicaraannya, "dulu kau yang mengajak kami untuk ke sini, bersama menyemai mimpi, dan mewujudkannya, sudahlah, aku tak ingin dengar kata enyah itu lagi" besok ku ingin kau seperti biasa tak ada dansa atau nyanyian enyah lagi, jika engkau di enyahkan, kami ada di sini, bernyanyi girang meski tak ada penonton dan sorak sorai tepuk tangan".
Sambil memanggil pelayan, memasukkan laptop lalu bergerak, "Aku duluan, buang jauh kata enyah itu" mengakhiri dengan jabat tangan dan tos (cas iley), dia berangkat meninggalkanku bersama mimpi yang ingin kuenyahkan lalu bertahan dalam pelukan ingatan tentang asa itu.
Aku tak ingin enyah sebelum mereka telah benar-benar enyah duluan.
Note:
- Foto Dokument Pribadi dan hanya ilustrasi.
- Cerita ini adalah fiksi pengantar tidur.
Selamat malam dan selamat beristirahat, jumpa di mimpi yang indah.