Ketika sedang menstudi S-3, salah seorang karib saya dari Australia yang menjadi koordinator salah satu program studi di salah satu kampus di Thailand Selatan mengingatkan, tentang kegilaan di dalam dunia akademik. Istilah yang digunakan adalah madness. Kegilaan ini terjadi saat seseorang tidak mampu mengontrol lagi apa yang berkecamuk di dalam pikirannya. Sehingga, dia bicara ngelantur. Orang mulai susah menangkap pesan dari pembicaraannya. Saat itu, kegilaan telah membuat dirinya berbeda dengan orang sekitarnya.
Ketika selesai PhD saya jarang menemukan kondisi seorang mahasiswa seperti yang digambarkan di atas. Tidak ada kegilaan yang terjadi pada beberapa individu. Namun, ketika saya ceritakan hal di atas pada seorang guru besar yang tamat pada salah satu kampus di Amerika Serikat, mengatakan bahwa hal tersebut pernah dialaminya, ketika sedang menstudi di Amerika Serikat. Saya tidak pasti, mengapa guru besar ini kemudian selalu berbicara tentang wisdom (kebijaksanaan) dan tidak pernah menyalahkan orang lain, di dalam memahami satu pola pikir.
Hampir 2 jam lebih kami membedah tentang madness in intellectual experience. Saya menduga awalnya itu adalah hal yang biasa. Namun, menjadi tidak biasa, karena tidak semua orang mengalaminya. Bagi mereka yang sudah pernah mengalami ini, biasanya akan tersenyum dan mengalihkan pembicaraan pada topik lain. Karena jarang saya temui, maka jarang pula saya ungkit ke permukaan.
Akan tetapi, siapa tahu ketika dikupas di sini, mungkin akan ada orang-orang yang membagi pengalaman kegilaannya di dalam dunia akademik. Pengalaman ini tampaknya diawali oleh ketekunan seseorang di dalam menekuni bidang keilmuan dalam masa studi. Mereka berbulan-bulan menghabiskan masa sebagai isolated man (manusia yang terisolasi). Kemana-mana dia hanya berpikir tentang apa yang menjadi objek studinya. Tidak ada lain yang berkecamuk, kecuali hasil-hasil bacaannya yang selalu berdialog di alam pikirannya.
Alhasil, kemanapun dia pergi, dia tidak mampu menghentikan pikirannya untuk terus berpikir. Dari ribuan halaman yang dibacanya, lantas disarikan menjadi 2 atau 3 pertanyaan, yang akan dijawab selama 2-3 tahun masa studi di S-3. Konyol memang. Sebab, membaca ribuan halaman, lalu memunculkan masalah, lantas jawabannya ditulis dalam ratusan halaman. Biasanya, mencapai 80 ribu hingga 100 ribu kata. Di sini pembimbingnya akan hadir untuk mengarahkan sang murid tersebut. Pada saat yang lain, ada juga pembimbing yang hadir untuk membimbing emosi sang murid.
Ada kawan yang mengatakan pengalaman menjadi mahasiswa doktoral adalah pengalaman sekali dalam seumur hidup. Sukar dan susah untuk diulangi. Sebab, pengalaman intelektual ini akan mengantarkan diri seseorang untuk berpikir secara komprehensif. Tidak mengukur kepandaiannya dengan kebodohan orang lain. Tidak cepat menyalahkan pikiran orang lain. Tidak menganggap diri hebat, karena banyak membaca. Pengalaman PhD memang menciptakan kegilaan di dalam diri seseorang.
10 tahun yang lalu, pengalaman di atas adalah yang sulit untuk dilupakan. Ketika selesai, baru saya paham bahwa kegilaan di dalam dunia akademik akan mengantarkan seseorang pada dunia nyata yang tidak begitu bersahabat. Kecamuk pikiran terus bergejolak, hingga pada satu titik, muncul ambang batas kesadaran, antara ilmu, manusia, dan pemilik ilmu pengetahuan. Sang musafir ilmu akan merasakan kalau dirinya bukan siapa-siapa. Terlebih lagi, jika seorang pembimbing benar-benar guru besar yang mampu memahami dunia intelektual dan spiritual.
Peristiwa kegilaan, seperti yang pernah saya diskusikan dengan beberapa individu, memang menciptakan kesadaran dalam jiwa seseorang. Kesehatan jiwa dan pikirannya benar-benar diuji. Karena itu, tidak sedikit para ilmuwan yang mengantarkan dirinya pada lubang hitam, menjadikan dirinya sebagai objek dari ilmu yang ditekuninya. Karena itu,dia benar-benar dianggap gila oleh orang-orang sekelilingnya. Betapa banyak ilmuwan yang masuk rumah sakit jiwa atau menjadikan jiwanya sebagai rumah yang sakit.
Setelah pulih dari goncangan ini, maka seorang mahasiswa itu persis seperti terlahir kembali (reborn). Jika tidak pulih, maka dia boleh jadi gagal atau benar-benar mengalami depresi yang amat dahsyat. Sebaliknya, jika berhasil melewati fase ini, maka dia akan menjadi seorang yang tidak hanya mampu memahami dirinya sendiri, tetapi juga memahami orang lain. Tidak banyak bicara. Tidak suka mengadu ilmu. Tidak mau banyak berdebat. Di situlah, percikan ilmu sedikit bersinar di dalam jiwa sang murid. Biasanya, pembimbing akan tersenyum, sebab muridnya telah mengalami apa yang pernah dialaminya puluhan tahun yang lalu, ketika menjadi murid.
Karena itu, murid akan begitu stress, jika ganti pembimbing atau tidak akur dengan pembimbingnya. Di situ ego intelektual seseorang benar-benar diuji. Karena untuk lepas dari jeratan kegilaan ini, bukanlah kepintaran atau kecerdasan yang tinggi, tetapi kebijaksanaan yang harus digali dalam jiwa sang murid. Jika tidak, maka kegilaan akademik akan berakhir dengan kegilaan yang tidak ada ujung.
Inilah alasan mengapa saya meminta mahasiswa saya untuk merasakan masuk ke lubang jarum sebagai mahasiswa doktoral, terutama di kampus-kampus terkemuka di dunia. Di sini akan diuji emosi dan kecerdasan sang murid. Kalau di level master, banyak menghapal teori-teori. Jenjang seterusnya adalah berpikir tentang mengapa suatu teori muncul. Bagaimana berpikir itu penting, ketimbang bicara di dalam forum-forum akademik.
Bagi saya, memahami karakter intelektual seseorang tidak begitu sukar. Karena itu sangat tergantung apakah seseorang tersebut pernah mengalami goncangan di dalam pengalaman intelektualnya. Sang guru besar yang pernah saya temui, memang mengatakan pengalaman kegilaan ini sangat mahal harganya. Beberapa guru besar yang agak menahan diri menceritakan kegilaan akademik, cenderung akan menggunakan bahasa-bahasa simbolik untuk menarasikan pengalamannya.
Di sinilah agak miris jika ada mahasiswa yang tidak tekun di dalam dunia studinya. Terutama yang menstudi magister dan doktoral, yang sama sekali tidak mau membaca selama masa studinya di kampus. Comot sana sini ketika menulis laporan akhir, untuk tidak mengatakan plagiasi. Memaksa pembimbingnya dengan berbagai alasan non-akademis. Ketika setelah wisuda tidak sedikit pun ada aura keilmuan di jiwa sang murid. Mereka berbicara karena ada titel, bukan karena ilmu. Lebih parah lagi, kalau mereka bicara di publik, sama sekali sukar dicari bentuk fondasi keilmuannya secara kokoh. Sehingga dia menjadi narator, bukan konseptor atau bahkan pemikir.
Belum lagi kalau seseorang tersebut menjadi guru besar. Karena tidak pernah sampai pada kondisi-kondisi kegoncangan sebagai seorang intelektual, maka yang akan dikedepankan adalah gaya bertutur MSI (Master Segala Ilmu). Dia menjadi tahu segala-galanya, walaupun dia tidak masuk dan mengalami pengalaman kegilaan di dalam perjalanan akademiknya. Di auranya lebih banyak aura materi, ketimbang ilmu. Ini agaknya mengapa ilmuwan-ilmuwan besar zaman dahulu memilih hidup untuk berkontemplasi dan hidup sederhana, sehingga karya-karya besar muncul dari tangan-tangan mereka. Saya pun meyakini bahwa tradisi intelektual Muslim juga mengalami hal-hal di atas. Sebab, pengalaman di atas adalah pengalaman yang lazim di kalangan calon-calon ulama besar. Bahkan, tradisi doktoral ini sebenarnya adalah tradisi Muslim mencari ilmu.