Kotaku...
Dulu kau dalam keheningan sepi Keelokanmu yang dulu begitu indah, sedap untuk di nikmati dan sukar untuk di pandang. Dahulu, kami menghirup udaramu yang begitu hangat nan begitu nyaman. Kinı, pesisirmu tinggallah padang tandus.
Kotaku... Dulu.! Pesisir lautmu begitu luas dengan magrove yang selalu setia menemani mu
Kini tinggallah kau sendiri. Karena abrasi yang selalu cemburu melihat magrove dekat dengan mu lautku.. Pupuslah sudah harapanku saat melihat keindahan ombakmu yang semakin hari semakin memudar nan air yang begitu keruh dan hitam.
Dulu.!
Ombakmu yang biru memancarkan cahaya yang begitu memukau Kini terpancar cahaya kesedihan dari ombakmu.
Kotaku!
Ombak di pesisirmu seakan menangis saat kehilangan magrovemu, saat mereka megantikan magrovemu dengan sergelintik beton di pesisirmu, begitu sakit ombakmu saat menghempaskan diri di beton yang begitu... Kasar.😢
Sakit.. Sakit... Betapa sakitnya dirimu yang sekarang ini. Ku tak berdaya saat melihat penderitaan dan mendengar suara tangisan ombakmu terhentak oleh sergelintik beton yang berdiri kokoh di pesisir lautmu.