Maaf, ini bukan cerita sex, jadi jika anda terlanjur masuk, silahkan pakai sendal kembali dan peutak! (pergi!). Bukan pula cerita tentang aktor film Rambo yang terjepit bohlolo (anu) dengan resleting. Ini hanya sepenggal cerita tentang seekor kucing saja.
Walaupun cerita ini terjadi kemarin sore, namun baru sempat saya posting malam ini, karena satu dan dua kesibukan dalam rangkaian Surah Buku kemarin malam. Sangat disayangkan jika cerita ini saya tenggelamkan dan tidak saya masukkan dalam bagian dari , karena siapa tahu cerita ini memiliki sisi yang bisa menjadi pelajaran bagi kita semua, para Steemian Lempap ini.
Saya awali dengan sedikit latar belakang, yaitu tentang saya yang suka iseng melakukan eksperimen-eksperimen kecil pada apa yang terdapat di sekeliling saya. Keisengan itu mungkin sudah seperti ritual bagi saya yang tidak suka melakukan wisata dengan bepergian jauh. Bagian seperti yang ingin saya ceritakan ini mungkin terkesan agak nakal, dan mungkin terbilang biadap bagi anda. Maafkan saya, kalau begitu, Lempap.
Kali ini keisengan itu jatuh lagi pada seekor kucing bernama Rambo deuk (lapar). Ya, bukan sekali dua kali saja saya meluapkan keisengan pada kucing yang sejak kecilnya sudah menemani saya ini. Terutama saat-saat sore hendak tenggelam, saya biasanya ngopi berdua dengannya. Dia memang sahabat baik walaupun sedikit nakal. Saya masih ingat betul, Rambo bersama beberapa saudaranya yang entah kemana itu dilahirkan tepat di samping tempat tidur saya di tahun 2016, tanpa saya sadari.
Kini, seiring berjalannya waktu, Rambo telah menjadi sosok yang terbilang gagah, segagah aktor dalam film Rambo. Meski terhitung sudah beberapa kali Rambo terkena gilasan ban motor ketika beroperasi mencari pacar di luar sana, namun ia masih tetap hidup hingga sekarang. Terakhir digilas, rambo sama sekali tidak bisa berjalan jauh, ia hanya bisa menyeret badannya dengan dua kaki bagian depan. Punggungnya jika tidak patah, mungkin meukilah (terkilir), parah pokoknya.
Saya benar-benar amat sedih saat itu, yang saya pikirkan adalah bagaimana ia bisa makan, mungkin ia telah menahan lapar selama puluhan jam. Segera saja saya pergi membelikannya sate, dan alhamdulillah ia kunyah dengan lahap, sambil sesekali mengeluarkan suara yang terdengar begitu menusuk ke hati saya. Mungkin ia mengatakan saya lempap, atau mungkin kata terimakasih. Tapi saya kira tidak perlulah dia mengucapkan itu, karena bisa bikin rasa sedih saya bertambah membuncah. Toh saya amat menyayanginya.
Tapi, stop. Ini malah cerita sedihnya yang keluar, padahal saya ingin menceritakan tentang yang lainnya dari kucing lempap bernama Rambo deuk ini, yaitu tentang kejadian itu barang setelah sebelumnya si Rambo saya berikan ramuan herbal yang bernama akar kucing. Ya, kalau tidak salah saya akar kucing namanya. Rahasia khasiat akar tumbuhan itu saya ketahui dari seorang bekas mafia sabu Aceh yang sekarang sudah taubat.
Meski bukan sekali ini saja saya memberikannya akar tumbuhan itu setelah diberitahukannya. Tapi sepertinya ini menjadi momen penting dan monumental, karena saya berhasil mengabadikannya juga lewat kamera dan membagikannya pada para Steemian Lempap sekalian.
Sebelum saya membaginya, saya ingin agar Steempap tidak ribut-ribut, jangan sampai Rambo tahu, karena itu bisa membuat hubungan persahabatan kami renggang. Berikut adalah pose-pose yang saya rekam secara diam-diam. Selanjutnya, silahkan memikirkan sendiri bagaimana ceritanya.
Bagaimana, bisa anda bayangkan sendiri kan bagaimana cerita dan juga khasiat dari akar kucing? Benar-benar emeijing bukan?
Ini kejadian nyata Pap, tanpa rekayasa.
Salam Lempap!