Selamat pagi steemians ...
Di sini jam 04:00 pagi waktu Taiwan, bukan tanpa alasan bangun sedemikian dini.
Lima hari belakangan saya menginap di rumah sakit, menemani nenek yang mengeluh karena lambungnya bermasalah. Saya menghuni salah satu kamar di lantai sepuluh bersama dua pasien lainnya. Sebenarnya tak terlalu sulit menyesuaikan diri tinggal di lingkungan para pesakit, dibalik sudah biasa juga senang bisa bertemu teman Indonesia lainnya yang satu profesi (pekerja migran)
Dalam satu kamar kita dipisahkan sekat gorden berwarna biru dan segala aktivitas dapat didengar penghuni kamar lainnya. Posisi saya sendiri berada di tengah dua pasien lain, jam setengah dua belas tadi sebenarnya saya sudah terlelap dibawa mimpi. Namun suara alat pendeteksi detak jantung yang dipasang pada pasien sebelah kiri membuat saya beranjak bangun serta langkah para suster yang satu persatu datang memenuhi ranjang sebelah yang membuat pikiran saya entah ke mana-mana.
Selang tak berapa lama suara tangis pecah memenuhi ruang kamar, saya rasa itu kerabat si pasien dan sesuai dugaan saya pasien tersebut meninggal dunia. Memang benar ya ajal itu tak dapat dinego, di saat yang lain sedang terlelap dalam tidurnya, ajal justru datang menghampiri tanpa permisi.
Sehari sebelumnya sebenarnya itu adalah tempat mbak Indonesia yang juga menjaga seorang nenek, namun setelah enam hari dirawat neneknya meninggal dunia. Jadi sudah dua pasien disebelah saya meninggal 🙁
Speechless sih lantaran itu seperti peringatan kecil untuk saya, sebab kematian tak seperti jadwal kedatangan bus yang bisa diketahui jam menit pastinya.