Gajah merupakan salah satu makhluk purba yang keberadaannya masih eksis di dunia ini. Keberadaannya berafiliasi secara langsung dengan kehidupan manusia sejak zaman dahulu sampai dengan sekarang. Langsung atau tidak langsung, akibat dari "human error" (kesalahan manusia), keberadaan gajah saat ini berada di ambang kepunahan. Tak terkecuali dengan Gajah Sumatra.
Gajah Sumatra atau yang memiliki nama latin Elephas maximus sumatranus merupakan salah satu satwa asli pulau Sumatera, Indonesia, yang memiliki ukuran 1,7-2,6 meter. Jika dibandingkan dengan Gajah Afrika, ukuran Gajah Sumtera lebih kecil.
Di Indonesia, menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetaan Jenis Tumbuhan dan Satwa, Gajah Sumatera termasuk dalam satwa dilindungi.
Gajah Sumatera saat ini berada dalam status Kritis (Critically Endangered) atau daftar merah spesies terancam punah yang keluarkan oleh Lembaga Konservasi Dunia (IUCN). Hal tersebut disebabkan oleh aktivitas pembalakan liar, penyusutan dan fragmentasi habitat, serta pembunuhan akibat konflik dan perburuan, yang selanjutnya akan diuraikan satu persatu secara lebih terperinci.
Pembalakan liar, Penyusutan dan Fragmentasi Habitat
Disadari ataupun tidak, tindakan pembalakan liar merupakan salah satu faktor terbesar punahnya Gajah Sumatra. Para pembalak liar memang hanya menebang pohon besar yang hanya bisa diolah menjadi papan atau sesuai kebutuhannya. Namun akibat penebangan tersebut, pohon-pohon kecil disekitar akan ikut bertumbangan. Secara langsung akan berakibat pada hilangnya sumber makanan bagi kawanan gajah.
Ekses dari kondisi yang demikian, kawanan gajah akan turun ke wilayah perkebunan untuk mencari sumber makanan baru, yang memberi akses secara langsung terjadinya konflik dengan manusia ataupun teknologi yang dipakai manusia.
Faktor lain yang tidak kalah pentingnya dalam proses kepunahan gajah yaitu penyusutan hutan dan fragmentasi habitat asli gajah. Dalam kasus ini, umumnya kesejahteraan hidup menjadi alasan utama manusia.
Sebagian pekebun nomaden (petani/pekebun yang berpindah-pindah areal pertanian atau perkebunan) cenderung membuka lahan baru untuk tempat bertani dan berkebun. Mereka memanfaatkan pinggiran hutan yang tidak bertuan untuk dijadikan tempat menopang kehidupan. Lahan baru tersebut dibuka dengan cara pembabatan pepohonan di sebagian kecil pinggiran hutan maupun dengan membakar yang merupakan ekosistem habitat gajah.
Namun yang paling tragis adalah pembukaan lahan yang merupakan hutan ekosistem untuk dijadikan lahan perkebunan oleh perusahaan-perusahaan perkebunan, umumnya perkebunan kelapa sawit. Pemangkasan hutan ini dilakukan secara terstruktur dan masif, merata di seluruh Sumatra, bahkan Indonesia.
Kawasan-kawasan yang sudah, atau akan ditanami kelapa sawit, harus dibersihkan dari tanaman atau tumbuhan orisinil ekosistem. Berarti, jenis-jenis tumbuhan lain yang bisa mengganggu perkebunan harus ditebang untuk diganti dengan sawit. Disini sekali lagi ditegaskan bahwa faktor tersebut telah membinasakan ekosistem habitat Gajah Sumatra secara terstruktur dan masif.
Perburuan dan Konflik Horizontal
Harga gading gajah yang mencapai angka fenomenal merupakan sebab para pemburu tega untuk membunuh gajah, hanya sekedar untuk mengambil gading. Kenyataan ini tidak memerlukan bukti yang spesifik, karena gajah yang mati akibat perburuan ditandai dengan hilangnya gading pada bangkai gajah.
Konflik secara langsung dengan masyarakat juga salah satu penyebab menurunnya gajah jumlah populasi Gajah Sumatra. Kawanan gajah yang mencari habitat baru, sebagiannya turun ke wilayah pedesaan dan mengganggu atau memakan tanaman masyarakat adat. Berbagi kasus tentang hal ini sudah sangat sering kita baca di media sosial.
Pada dasarnya, semua jenis marga satwa tidak akan meninggalkan habitat aslinya. Unsur keterpaksaan menjadi pemicu suatu populasi untuk mencari habitat baru guna kelangsungan hidup. Artinya, ada suatu kondisi dimana mereka memang sudah tidak dapat lagi mempertahankan habitatnya. Demikian juga dengan gajah yang kebilangan habitatnya yang secara umum diakibatkan oleh ulah manusia.
Dipandang dari sudut manapun, penyebab utama konflik antara manusia dan gajah dimulai dari kesalahan yang dibuat manusia, dengan berbagai dalih. Sedangkan konflik dalam unsur kebetulan sangat jarang ditemui, walaupun ada beberapa kasus yang tercatat, namun bukan merupakan faktor dominan.
Konklusi Pelestarian
Bukan hanya bagi gajah sumatra saja, kelestarian seluruh flora dan fauna berbanding lurus dengan pelestarian hutan sebagai sumber daya dan habitat makhluk hidup.
Menanamkan pentingnya menjaga dan memelihara kelestarian hutan sejak dini bisa menjadi pijakan dasar bagi generasi mendatang demi keberlangsungan kesejahteraan hidup manusia. Kita sangat bergantung pada hasil alam sebagai sumber kehidupan kita, namun kita akan kehilangan semuanya dalam sekejab bila kita enggan untuk menjaga sumber daya itu sendiri.
Kita menyadari bahwa kerusakan lingkungan paling umum terjadi karena ulah manusia. Sangat mudah memang untuk merusak suatu hal, tapi sangat sulit untuk menumbuhkan kesadaran agar kita melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Kerusakan hutan yang terjadi selama ini bisa ditanggulangi dengan menyadari secara mendalam pentingnya hutan bagi kehidupan manusia.
Reboisasi (penghijauan kembali) hutan yang adalah salah satu solusi penggantian hutan yang telah gundul, namun tindakan untuk menjaga kelestarian hutan yang merupakan habitat asli marga satwa merupakan tindakan utama yang harus dilaksanakan.
Memberikan arahan tentang pentingnya gajah sebagai salah satu anggota siklus kehidupan, penghentian kegiatan perburuan gading gajah serta penerapan hukum yang maksimal untuk pelaku pengrusakan habitat dan pemburu juga bisa diaplikasikan secara intens demi kemaslahatan kita bersama.
Kita boleh saja mengembangkan bisnis di bidang perkebunan, bahkan sangat urgen untuk menampung tenaga kerja. Akan tetapi tindakan membabat hutan belantara secara membabi buta sebagai dalih kesejahteraan justru akan berdampak sangat buruk bagi ekosistem serta keberlangsungan sumber daya alam.
Banyak celah yang bisa kita manfaatkan tanpa mengabaikan AMDAL (Analisis Dampak Lingkungan). Jangan karena memikirkan kesejahteraan saat ini, kita mengorbankan sesuatu yang lebih fatal bagi generasi yang akan datang.
Bukan hanya manusia saja yang berhak hidup di atas bumi ini. Karena Allah SWT juga menciptakan hewan dan tumbuhan sebagai pelengkap dunia. Hidup berdampingan dengan alam dalam sebuah harmoni telah dilakukan oleh nenek moyang kita.
Tulisan ini saya perembahkan sebagai penghargaan atas saran teman-teman agar mengikuti kontes yang diadakan oleh ; "Pandangan Steemian Terhadap Konflik Gajah"