Matahari baru berangkat merangkak pelan-pelan menuju ke puncak hari. Kami dijejerkan rapi dengan pakaian wangi tanpa peneduh. Hingga bendera di kibarkan, peluh ngamuk dari ketiak hingga celana dalam.
Bau nasionalisme yang terpanggang mentari, kurang menggugah karena, di bawah naungan tenda, duduk khidmat para pejabat.
Aku adalah bajingan yang ikut-ikutan upacara. Pahlawanku belum mati. Sepetak tanah yang jauh dari belantara makam para pahlawan yang tak mati di medan perang, telah tersedia baginya. Tak ada bambu runcing dan ikat kepala. Tak ada baris berbaris denga langkah seragam. Nasionalisme tak intruktif seperti hendak bertempur. Nasionalisme adalah kecintaan mendalam yang sederajat dengan upaya ayah membawa pulang makanan buat keluarga. Setara!
Kalau ada yang bentak-bentak demi negara, itu penjajah. Yang mungkin sebaris denganku saat menyanyikan lagu.
Tadi pagi.