SALAM STEMIANS
Hari ini saya menulis catatan tentang proses penjurian yang saya lakukan. Bagi saya, ini proses yang tidak mudah. Hal itu dikarenakan mayoritas tulisan stemians lovers ini bagus-bagus.
Saya membaca dua kali tulisan teman-teman peserta indonesiachallenge#7 ini. Tujuannya agar jangan ada yang terlewatkan. Sebanyak 66 peserta ikut dalam kompetisi dengan tema fasilitas publik ini.
Tema yang ditulis sangat beragam, mulai dari tranportasi, taman kota, jalan, halte, plus layanan publik disekitar obyek wisata. Ada juga yang menulis soal rambu lalulintas hingga layanan di rumah sakit. Semakin beragam dengan hadirnya tulisan soal museum dan stadion.
Semua tema itu menarik untuk dikulik menjadi tulisan yang menggugah, natarif dan membawa pembaca hadir ke lokasi itu.
Sobat Stemians, dari sisi jumlah, terjadi penurunan dari indonesiachallenge#6. Jauh lebih sedikit dibanding indonesiachallenge#5. Namun, saya memaknainya wajar saja. Tema fasilitas publik sebenarnya tema yang lebih spesifik. Dimana, peserta harus khusus memotret lokasi tertentu, semisal membahas soal halte, maka harus memotret halte.
Sementara tema sebelumnya wisata dan umum, tentu lebih mudah diperoleh. Saya pahami, setiap akhir pekan, atau saban sore, teman-teman bisa berwisata ke lokasi tertentu. Wisata secara umum bukan hanya bicara soal pantai, namun juga kuliner.
Juri sebelumnya dan
telah mengungkap beberapa kesalahan yang dalam tulisan. Kali ini, kesalahan itu juga saya temukan kembali. Bagi saya, tak mudah menjadi penulis yang benar. Boleh saya menggunakan gaya bertutur, layaknya seperti berbicara dalam tulisan. Itu semua sah.
Namun, patut diingat, ketika memutuskan untuk ikut serta dalam lomba, maka kaidah menulis yang benar patut diperhatikan. Semisal ejaan yang disempurnakan.
Kesalahan yang saya temukan misalnya penggunaan “di” sebagai kata depan dan “di” menunjukan kata tempat selalu berbenturan. Harusnya “di depan” untuk menujukan tempat, namun tertulis “didepan”. Bagi saya sebenarnya ini soal ketelitian. Ingat, rumus paling sederhana dalam menulis adalah-teliti-menggunakan bahasa dan diksi.
Belum lagi kesalahan teknis, kesalahan administratif, seperti yang disebut dalam pengantar lomba. Jelas pada syarat disebutkan bahwa kata kunci pertama adalah Indonesia lalu indonesiachallenge7. Masih ada kesalahan soal penempatan kata kunci itu.
Kawan-kawans stemian
Masalah yang lazim saya temui selama proses penjurian ini adalah tulisan yang terlalu umum, mengambang dan tidak fokus. Idealnya, satu tulisan fokus saja pada bidang tertentu. Misalnya, fokus pada lokasi jalan berkubang. Cukup bercerita bagaimana kesulitan mengakses jalan itu, berapa kendaraan yang pernah jatuh di sana dan seterusnya.
Alangkah apiknya jika mampu mendeskripsikan bagaimana lumpur itu menghambat akses kendaraan masyarakat. Tulisan jenis ini sebenarnya bisa dibuat lebih fokus dan detail.
Untuk memahami detail gampang saja, gunakan pancara indera. Apa yang tercium hidung, apa yang didengar lewat telinga, apa yang dilihat mata, dan seterusnya. Namun, itu semua haruslah didetailkan. Sehingga, pembaca dibelahan bumi mana pun dia berada, bisa merasakan situasi itu dan seakan bisa melihat langsung peristiwa itu. Apalagi ada sejumlah foto yang mendukung tulisan tersebut.
Kendala lainnya, seringkali tak mampu memulai dengan apik. Saya sering menamsilkan, bahwa kalimat pembuka layaknya kita mendengar sandiwara radio tempo dulu. Saya tidak tahu, apakah teman stemians pernah mendengar sandiwara radio seperti Mak Lampir, Saur Sepuh dan lainnya dulu.
Menulis kalimat pembuka sama dengan mendengar sandiwara radio. Jika bagian awal sandiwara tidak menarik, maka kita akan memutar tune radio ke frekwensi lainnya. Begitu juga dengan menulis. Jika kita gagal membuka tulisan menarik, maka pembaca akan meninggalkan tulisan itu. Alih-alih membaca sampai tandas, bisa jadi tulisan itu akan ditinggalkan begitu saja.
Untuk membuka tulisan yang menarik, tentu tak perlu repot menggunakan berbagai teknik kepenulisan yang pernah kita baca dalam literatur. Saya menyarankan, membuka tulisan yang baik cukup dengan mendeskripsikan apa yang kita lihat.
Bisa juga menggunakan cara bercerita dengan orang pertama tunggal “aku’. Semisalnya, Aku menyusuri jalanan di Desa Paya, Kecamatan Paya, Kabupaten Paya, kemarin. Dengan sepeda motor yang melambat, aku menyusuri jalan yang lebarnya hanya satu meter itu. Di sisi kanan-kiri jalan ruang kosong menganga. Di bawahnya terlihat atap rumah penduduk yang mengecil. Dari gambaran itu pembaca akan tau bahwa jalan itu berada diketinggian atau bukit.
Seorang teman saya, kerap menggunakan gaya bertutur jenis itu dalam cerita pendeknya. Jurus bertutur ini setahu saya, paling mudah dipraktikan.
Sahabat stemian bisa berdiskusi soal ini lebih intens dengan . Ada baiknya memang memperbanyak membaca buku sastra untuk mengasah kelenturan berbahasa dan penggunaan diksi.
Hal yang paling sering digunakan peserta lomba kali ini adalah menggunakan gaya menulis dari umum ke khusus. Untuk lomba, saya tidak menyarankan gaya ini. Ada baiknya langsung menggunakan gaya khusus-umum. Artinya berbicara detail lalu menyisip persoalan umum sesuai kebutuhan.
Sobat Stemians
Bahwa dalam sebuah kompetisi tentu ada menang dan kalah. Saya menyitir kalimat bijak hari ini--bahwa kekalahan adalah kemenangan yang tertunda—ini bukan untuk menghibur diri dari kekalahan. Namun, untuk memberi kawan-kawan semangat mengikuti kompetisi berikutnya dalam tingkatan apa pun.
Saya pernah beberapa kali merasakan kekalahan. Saya pernah beberapa kali ditolak oleh penerbit buku atau novel. Namun, seiring waktu, seiring kemauan belajar dan mengoreksi diri, kini alhamdulillah, saya tak ada kendala dengan penerbitan dalam buku dan novel.
Sekali waktu saya masih menulis artikel atau cerita pendek untuk sejumlah surat kabar di tanah air. Sobat, rasanya saya ingin memenangkan semuanya. Namun, kompetisi tentu hanya memilih pemenang dalam jumlah terbatas. Apakah pemanang tak memiliki cela dalam tulisannya? Tentu ada. Jika memperhatikan detail, pasti akan ada kekurangan di sana-sini. Namun, saya memilih kekurangan paling kecil dari sekian puluh peserta.
Sesungguhnya debat panjang soal teknis kepenulisan itu bisa dibuka sepanjang-panjangnya. Tergantung dari sudut pandang mana memandangnya. Namun, dalam konteks lomba, tentu standar yang digunakan berlaku umum, seperti ejaan, fokus, detail dan narasi yang digunakan.
Temans, besok matahari masih bersinar. Tetaplah semangat memenangkan indonesiachallenge berikutnya.
Tentu, diakhir tulisan ini saya mengucapkan terima kasih pada kurator Steemit Indoensia dan
yang mempercayai saya menjadi juri pada even kali ini. Saya berterima kasih atas apresiasi itu. Bahwa saya sesungguhnya belum berani mengklaim diri sebagai penulis yang baik. Saya masih terus belajar dan berdiskusi dengan semua penulis tanah air. Ilmu saya masih sangat terbatas, dan buat para stemians maafkan atas keterbatasan itu.
Sesungguhnya kekurangan datang dari saya pribadi dan kesempurnaan hanya milik Allah SWT.
Berikut enam besar pemenang lomba kali ini :
=Menyorot Pengelolaan Sampah dan Sistem Drainase di Kota Lhokseumawe=83
==Pantai Lhok Mee: "Menatap Fasilitas Alam Dari Sudut Pandang Pembangunan" =80
=Fasilitas Publik Ramah Difabel =78
=PENDIDIKAN DAYAH MASA DEPAN YANG LEBIH CERAH =75
= Gethek - fasilitas publik bagi melayu tamiang = 73
= Becak Siantar-Riwayatmu Kini = 72
Terima kasih pada sponsor lomba kali ini, 55 SBD,
15 SBD,
15 SBD dan
15 SBD
Salam hormat, tabik.