“Ke mana tamunya Pa?”
“Sudah pulang,” Topan menjawab sekenanya. Wajahnya murung, tak seperti biasanya.
“Siapa wanita itu?” Ratih mulai curiga. Matanya tajam menatap wajah Topan, dari ujung kaki hingga kepala. Dia perhatikan detail perubahan raut wajah dan gerak-gerik sang suami.
“Teee... teman sewaktu bertugas di Aceh.” Topan kikuk. Dia berdiri dari kursi tamu, menghadap ke jendela depan rumah. Matanya datar menatap ke jalanan, menikmati lalu lalang kendaraan.
Pria berjenggot itu tak berani memandang istrinya. Dia berupaya bersikap senetral mungkin, namun tak bisa. Hatinya gundah setelah kedatangan Tari. Tak pernah terlintas di benak Topan untuk menyakiti Tari. Hatinya tak bisa berbohong. Topan mencintai istri dan Tari. Dua wanita hebat, cantik dan memiliki daya tarik tersendiri.
“Cukup! Jangan berbohong! Jujurlah, aku tidak akan marah.”
Suara Ratih mulai meninggi. Wajahnya memerah, napasnya tersengal-sengal menahan amarah.
Topan tak langsung menjawab. Ditariknya napas dalam-dalam. Dia tak ingin menceritakan hal yang sebenarnya, namun dia juga tak mau terlalu lama berdusta. Menyimpan rahasia. Seolah dia hanya mencintai seorang wanita yang kini menjadi istrinya. Dia menceritakan rasa cintanya pada Tari.
Wajahnya disembunyikan ke lutut, suaranya serak. Perlahan dia menceritakan hubungannya dengan Tari. Tak ada janji akan menikah dengan Tari. Tak pula banyak kesempatan untuk memadu kasih di arena perang. Namun, cinta butuh kejujuran. Dia mencintai Tari sepenuh jiwa. Meski tak saling jumpa, namun jiwa menyatukan keduanya.
Jauh di relung hati, Topan tidak ingin menyakiti Ratih yang selama ini menemani hidupnya. Namun, dia harus jujur. Jujur terkadang memang menyakitkan. Kelopak sayu itu mulai merah. Buliran putih, jatuh perlahan di pipi Ratih.
“Maafkan aku, Ma?”
Ratih tak bersuara. Hening agak lama. Suaranya hilang di tenggorokan, ditelan tangis yang mulai terdengar. Hatinya sedih bagai disayat sembilu.
“Pergilah, kejar dia. Aku dapat merasakan, apa yang dia rasakan,” nada kalimat itu putus-putus, hilang ditelan suara tangis. Topan, ragu untuk bergerak dari duduknya.
“Pergilah, aku… aku merelakanmu,” Ratih menunduk, “jangan ragu. Mantapkan hati,” katanya sambil menyeka air mata.
Malam terus bergulir. Hujan mulai menyiram bumi. Rintik yang kian deras itu seakan memahami suasana hati Topan. Ditekannya, pedal gas mobil semakin dalam. Topan tidak memperhitungkan jalan yang licin. Saat itu, yang ada di pikirannya, hanyalah Tari. Mengejar Tari dan menjelaskan apa yang terjadi.
Mobil dengan kecepatan tinggi itu menyalip mobil dan sepeda motor di depannya. Naas tak bisa dielakkan, saat Topan melewati mobil kijang di depannya, dari arah berlawanan muncul truk besar.
Brak!
Truk mengempaskan mobil sedan biru tua miliknya.
Brak!! Tabrakan tak dapat dielakkan. Topan terjungkal keluar dari dalam mobil. Mobil itu terbalik, tubunya penuh luka. Orang-orang mengerumuni lokasi kecelakaan. Darah segar terus mengalir, dari mulutku. Perlahan… sangat perlahan, dari mulutnya terdengar lafaz-lafaz Al Quran. Sesekali, nama Tari keluar dari mulutnya. Tabrakan itu mengakibatkan kemacetan.
Seorang warga berinisiatif mengambil telepon genggam dari celananya. Lelaki tua itu mencari nama Tari, untuk menghubungi wanita yang disebut-sebut oleh korban kecelakaan
itu.
“Ketemu! Ini dia.”
Lelaki tua itu bicara sendiri. Ditekannya tanda panggilan untuk menghubungi nomor
Tari. Sementara Topan meringis menahan pedih tak terperi.
Kumasuki bandara megah dengan tubuh lunglai. Semangatku hilang seketika. Kupaksa kaki menuju loket check in di bandara termegah kedua di negeri ini.
Wahai bungong ceudah hana ban, tamse nyak dara yang cantek rupa. Diteka bana dijak peuayang . Uroe ngon malam bungong digoda
(Wahai bunga cantik tiada tara, seperti perawan cantik rupawan. Datang penyakit menyakiti. Siang dan malam bunga digoda)
Nada dering telepon genggamku berbunyi nyaring. Lagu itu sengaja kuatur untuk nada panggilan masuk. Tak kuhiraukan panggilan itu. Jiwaku galau. Malam ini aku tak ingin diganggu. Ingin sendiri dalam sunyi.
“ Diangkat dulu, Mbak.”
Petugas mengingatkanku. Terpaksa kuangkat panggilan itu. Aku tidak ingin sedihku diketahui orang lain, karena sedih bukan untuk dipamerkan.
“Ada apa lagi?” suaraku langsung menunggu melihat nama Topan tertera di layar.
“Maaf, Anda Nyonya Tari? Pemilik telepon genggam ini mengalami kecelakaan. Sekarang, tepat berada di Gerbang Tol Jagorawi. Segeralah ke mari,” ujar suara di seberang.
Aku menutup mulutku. Topan kecelakaan. Kusimpan luka yang baru saja menganga di jiwa. Aku harus kembali, Topan membutuhkan pertolonganku. Aku harus kembali.
“Tiketnya?” suara petugas itu memanggilku, namun tak kuhiraukan. Aku berlari menuju pintu keluar bandara.
“Cepat ya Pak!” kataku pada sopir TAXI. Gerimis masih memeluk Jakarta. Beberapa ruas jalan, tampak banjir sebatas mata kaki. Pikiranku tak menentu, malam kian membelenggu. Kelabu.
Kulihat masyarakat berkerumun di pinggir jalan tol. Tampak, dua mobil, hancur dan terpental ke luar ruas jalan. Kubayar TAXI tanpa melihat argometer. Kusibak kerumunan orang-orang yang mengelilingi tubuh Topan yang terbujur kaku. Napasnya melemah. Darah terus mengalir, dari hidung, telinga dan kepalanya.
“Topan,” aku menjarit, tak sanggup menahan tanggis.
“ Aku titip Sel… la, maafkan aku.”
“Tidak, kamu harus bertahan. Harus… ya, kamu pasti sembuh,” ucapku tak karuan.
Aku membawa Topan ke rumah sakit terdekat. Beberapa saksi mata kejadian ikut menemaniku. Korban lainnya dalam kecelakaan itu hanya mengalami luka ringan.
Ambulan berjalan. Sirinenya menjerit sekenyang-kencangnya. Aku berusaha untuk memberi semangat hidup pada Topan.
“Topan, kamu harus selamat. Kamu, akan sembuh. Tenanglah, minta pertolongan pada Allah. Ayo berdoalah, Allah pasti membantu.
“Ta… ri. Maa…. afkan, aa… ku,” bibir Topan lalu menggumamkan syahadat.
Aku menjerti sekuat tenaga. Topan telah pergi. Seluruh persendianku seakan lumpuh total. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Air mataku mengalir deras, bagai aliran sungai. Topan mengembuskan napas terakhirnya di depanku. Tepat di depan pintu unit gawat darurat (UGD) rumah sakit. Semua perawat merapikan tubuhnya. Membersihkan darah dan mendorongnya ke kamar mayat. Topan telah pergi selama-lamanya.
Sementara itu, di Rumah Topan Ratih pingsan. Sella, menjerit memanggil tetangga. Anak kecil itu menangis sekuat tenaga. Tetangga datang satu persatu. Mengangkat tubuh Ratih yang tersungkur di lantai.
Ratih memegang dadanya. “Sakit sekali,” ujarnya meringis.
Beberapa tetangga mengangkat tubuhnya ke tempat tidur. Sella, tak henti-hentinya menangis. Perlahan mata Ratih tertutup rapat. Rupanya kejadian yang baru saja ia alami tak sanggup ditopang oleh tubuhnya. Jantungnya terlalu lemah.
Kulangkahkan kaki menuju rumah Topan. Aku ingin memberitahu Ratih, Topan telah pergi. Pergi meninggalkan orang-orang yang sangat dicintainya. Aku terkejut melihat kerumunan orang di rumah itu.
Aku termangu di pintu melihat tubuh yang terbujur kaku ditutup kain di ruang tengah. Ratih? Apakah Ratih juga …? Langit seakan meledak di atasku. Aku tak dapat menyembunyikan kesedihanku. Topan dan Ratih kembali ke sisi-Nya dalam waktu yang hampir bersamaan.
Setelah melalui hari-hari yang berat di Jakarta, aku memutuskan segera kembali ke Aceh. Tubuh dan jiwaku lelah. Kesehatanku merosot drastis. Uang bekalku juga sudah habis. Tiba di Aceh, aku ternyata langsung dirawat di rumah sakit.
Keluar dari rumah sakit, kutenangkan diri beberapa hari di rumah kos. Beberapa teman kampus menjengukku.
Setelah pulih, aku mengurus banyak hal di kampus. Ternyata ketua jurusanku memanggilku.
“Saya sudah baca hasil akademikmu di kampus. Sangat memuaskan. Hari ini, saya ajak kamu bergabung di kampus. Menjadi asisten dosen. Kamu punya peluang untuk mendapatkan beasiswa S2.”
Tawaran itu tak pernah kuduga sebelumnya. Aku terdiam, air mata menitik. Allah Mahasuci, Maha Mengetahui. Kuterima tawaran itu. Allah aku tak bisa berkata-kata, Engkau telah memberikan yang terbaik buatku.
Satu siang, Bang Ampon, aku dan Indah janjian makan bersama. Suasana hening di warung lesehan di pinggir jalan negara itu. Hanya kami bertiga. Denting-deting gitar memenuhi warung.
Aku duduk persis di depan Bang Ampon. Indah di sampingku. Lama kami terdiam. Sibuk dengan makanan di depan kami. Setelah menyeruput jus jeruk, kami duduk santai. Berbincang ringan.
Bang Ampon agak kikuk, seakan ada hal yang ingin dibicarakannya. “Tari, sudah lama aku ingin mengatakannya. Tapi, aku tak bisa,” kata Bang Ampon memecah kesunyian. Indah senyum-senyum sendiri.
“Mau ngomong apa?, tanyaku heran.
Tak pernah kulihat Bang Ampon seserius ini. Dia menggeser duduknya, agak mendekat. Sesekali menggaruk kepalanya. Lalu hening agak lama.
“Aku takut, kamu menolaknya. Selama ini, aku selalu mencari tahu tentangmu melalui Indah. Indah pula yang selalu setia memberi informasi,” kata Bang Ampon.
“Maksudnya apa? Tari tak paham maksud pembicaraan Bang Ampon,” tanyaku lagi.
Aku menoleh ke arah Indah yang tersenyum sejak tadi.
“Tari, kamu harus tahu, pulsaku sering habis untuk memberitahu keadaanmu pada
Bang Ampon. Terimalah cintanya,” ucapnya sambil melirik genit.
Aku menatap Bang Ampon tak mengerti, “Bagaimana dengan penyakitku?”
“Aku menerimamu tuh, apa adanya. Jangan khawatir, aku sangat serius,” ucap Bang
Ampon mantap.
Aku masih terdiam, belum menemukan kalimat untuk menjawab tawaran Bang
Ampon. Apakah aku sudah siap menikah? Apakah aku menerimanya menjadi suamiku?
“Diam tanda setuju,” celetuk Indah.
Aku menunduk, lalu menatap Bang Ampon salah tingkah. Wajahku terasa menghangat, pasti sekarang merah padam. Bang Ampon senyum-senyum melihat reaksiku.
Kumantapkan hati menerima tawaran Bang Ampon. Kuberitahu Bu Keuchik dan Pak Keuchik akan niatku untuk menikah. Mereka setuju dan bersedia hadir di saat ijab kabul penikahanku.
Pak Yoga melamarku di depan Bu Keuchik, Pak Keuchik serta ibu kosku. Acara pernikahan berlangsung sederhana. Beberapa sastrawan ternama di negeri ini turut hadir. Meski sederhana, pesta pernikahanku berlangsung khidmat.
Saat malam tiba, saat tamu mulai pulang satu-satu. Kini surga itu telah datang. Surga kebahagiaan. Allah, terima kasih atas apa yang telah Kau berikan. Lelaki yang baik kini telah menjadi suamiku. Surga itu perlahan mendekat dan membawaku terbang ke alam kebahagiaan.
TAMAT
REESTEM = VOTE = FOLLOW @MASRIADI