Senin, kuliah dimulai. Semua mahasiswa baru diwajibkan mengenakan pakaian hitam-putih. Celana atau rok warna hitam dan baju kemeja warna putih. Beberapa mahasiswa senior sibuk mengurus barisan mahasiswa baru.
Rektor masuk untuk membuka acara orientasi pengenalan kampus (Ospek). Senyumnya penuh wibawa. Keningnya mengilap, tampak bekas-bekas sujud menghitam di tengah kening. Kata Emak, dahi yang membekas hitam itu pertanda rajin shalat.
Aku berada di barisan paling depan. Lelaki dan wanita dipisahkan pada kelompok berbeda. Oleh karena daerah ini telah memberlakukan hukum syariat Islam. Sampai sekarang, baru empat qanun (peraturan daerah) syariat Islam yang disahkan oleh DPRD provinsi. Qanun itu mengatur tentang khalwat, judi, minuman keras dan tatacara ibadah.
Mendukung penerapan syariat Islam, di daerah ini pun didirikan dinas syariat Islam, khusus menangani penegakkan syariat secara kaffah. Kaffah dalam aturan Islam yaitu menjalankan proses hidup sesuai dengan Al Quran dan hadis Nabi.
Namun, daerah ini, baru mencapai penegakkan syariat pada tataran simbolik saja. Hal ini dikarenakan qanun yang dikeluarkan pemerintah baru sampai pada tahap itu.
Misalnya untuk berzina diganjar dengan hukuman cambuk sebanyak tiga atau enam kali. Hukuman terbilang lebih ringan dibanding aturan agama yang seharusnya.
Masyarakat pun berbeda pendapat tentang syariat itu. Ada yang mendukung, tak kurang pula yang menentang.
“ Hai, kenalkan aku Indah. Kamu?”
Aku terkejut mendengar suara di sebelahku. Rupanya sedari tadi, pikiranku menerawang entah ke mana.
“Cut Tari. Panggil saja, Tari.”
Aku tersenyum sambil menyambut tangan wanita di sebelahku. Rektor universitas tengah berpidato dan menyampaikan amanat untuk mahasiswa baru. Aku tidak tahu berapa jumlah mahasiswa di lapangan depan kampus utama itu. Lapangan yang seluas stadion sepak bola itu penuh dengan manusia mengenakan pakaian hitam-putih.
Kutolehkan kepala ke belakang. Hanya terlihat jilbab atau kopiah hitam. Berjajar rapi seperti semut yang berjalan teratur. Namun, kopiah untuk pria hanya digunakan saat Ospek. Ketika kuliah, tak ada kewajiban mengenakan penutup kepala laki-laki itu.
Khusus kuliah, mahasiswa diwajibkan mengenakan pakaian sopan. Kaos berkerah atau kemeja dan celana longgar bagi wanita, tanpa rok sepan. Harus menutup mata kaki.
Begitu yang kubaca dalam aturan petunjuk masuk universitas yang dinegerikan saat negeri ini bergejolak sepuluh tahun lalu.
Bahkan dalam sejarahnya, tertulis jelas universitas ini diubah statusnya menjadi universitas negeri di depan empat juta rakyat provinsi ini, saat kedatangan Presiden di ibukota provinsi beberapa waktu lalu.
Saat itu, masyarakat daerah ini berkumpul di depan masjid tertua di ibukota provinsi. Masyarakat menuntut referendum dari negara sebagai solusi akhir konflik panjang di daerah ini. Saat itulah, kampus ini resmi diubah statusnya menjadi universitas negeri.
“Kamu dari mana?”
“Kutacane. Kamu? Sepertinya kamu anak sini asli ya?”
“Ya. Aku asli kota ini, bukan tiruan atau palsu. Hehehe. Kos di mana?” “Di Jalan Darussalam.”
“Artinya kita satu jalur. Aku di Hagu. Nanti pulangnya, sekalian sama aku saja.” “Boleh. Terima kasih ya.”
Pembicaraan itu terhenti saat kami mendengar suara senior membentak-bentak mahasiswa baru. Nasib mahasiswa baru memang begini. Senior selalu berdalih, untuk menempa mental dan rasa cinta almamater.
Makanya dalam Ospek, senior tidak pernah salah. Ada dua pasal yang di terapkan. Pasal satu, senior tidak pernah bersalah. Pasal kedua, apabila senior bersalah maka dikembalikan ke pasal satu. Akhirnya, señor selalu tidak pernah salah.
Senior memang selalu membela diri. Seharian ini, ada-ada saja yang wajib kami lakukan. Jadwalnya super padat. Kami harus berjalan untuk melatih kemampuan fisik. Terlihat wajah teman-teman lain mulai memerah. Ada yang pucat. Mungkin tidak sarapan pagi tadi.
“Wah, kamu hebat. Kamu malah tidak kelihatan lelah,” Rudi anggota kelompok di sebelahku angkat bicara.
Lelaki berkulit putih ini, hampir tidak tahan untuk berjalan. Namun, karena melihat senior berada di belakangnya, dipaksakannya untuk terus berjalan. Kakinya tertatih. Peluh menitis dari kening ke wajahnya.
“Ah, biasa saja. Enggak terlalu kuat. Aku juga letih,” kataku sambil mengelap
keringat yang mulai mengalir di kening.
Hari itu, hari yang melelahkan. Mungkin bagi semua mahasiswa di kampusk, khususnya mahasiswa baru. Tepat jelang Maghrib, kami baru diizikan pulang.
Kuempaskan penat di kamar kos. Setelah shalat Maghrib dan sedikit makan, aku langsung tidur. Kebisaaan ini memang tidak pernah bisa kuhilangkan.
Biasanya, kalau tidur setelah Maghrib, pasti aku terbangun setelah azan shalat Isya. Penat ini segera berakhir di kasur seadanya. Kasur tipis ini pemberian ibu kos. Aku tak punya uang cukup untuk membeli kasur yang bagus, berlapis busa agar empuk ditiduri.
Ospek berlalu. Pagi itu aku resmi menjadi mahasiswa universitas negeri kedua di provinsi itu. Saat penutupan Ospek, rektor menyebutkan, mahasiswa itu harus menjadi agen perubahan.
Mungkin kalimat itu memang ada benarnya. Sejauh ini, elemen mahasiswa yang paling konsen memperhatikan nasib rakyat. Jika ada kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat, maka mahasiswa menyemut, menyatukan tekad. Berteriak untuk demonstrasi. Itu sikap umum mahasiswa.
Mahasiswa di provinsi ini berbeda dengan di provinsi lainnya. Mahasiswa di daerah ini mengambil langkah diplomasi untuk mengkritik pemerintah. Tidak bisa berdemonstrasi. Jika demonstrasi, maka urusannya jadi panjang. Di daerah perang semua ruang gerak mahasiswa dibatasi.
Tidak jarang aktivis mahasiswa menjadi tumbal penembak misterius. Bahkan ada yang sampai saat ini belum ditemukan jenazahnya. Inilah yang menjadi kekhawatiran para aktivis kampus. Mereka juga manusia biasa, memiliki rasa takut yang bercokol dihati. Takut diculik, dilukai atau bahakan dibunuh.
Kuikuti proses kuliah seadanya. Pulang dari kampus aku selalu menuju pasar untuk mencari kerja dan sedikit berbelanja. Aku mulai khawatir. Jika tidak bekerja, uang tabunganku akan habis akhir bulan depan.
Kudatangi deretan toko di Pasar Inpres.
Meminta diterima bekerja paruh waktu selepas pulang kuliah. Sayangnya, pemilik toko menggelengkan kepala. Alasannya, sudah ada pekerja. Alasan lainnya, tak terima pekerja paruh waktu. Jika mau, ya harus bekerja sepenuh waktu.
Ah, Allah, mungkin aku belum beruntung. Kudatangi deretan kios-kios kecil pada bagian utara pasar. Mungkin, ada kios yang menampung mahasiswa untuk bekerja.
Sampai detik ini, aku belum menemukan orang yang mau mempekerjakanku di kios atau tokonya.
Meski begitu, aku terus berusaha.
Siapa tahu, Allah menunjukkan satu pekerjaan. Bagiku, apa pun jenis pekerjaan tak masalah. Yang penting bisa dikerjakan sembari kuliah. Aku ingin terus melanjutkan pendidikanku.