Film adalah media propaganda untuk menjangkau kelompok masyarakat yang belum membudayakan membaca dalam kehidupan sehari-hari. Di samping film, ada musik. Dalam Music as War Propaganda: Did Music Help Win The First World War?,
K.A Welss mengatakan bahwa pada Perang Dunia I, musik sudah menjadi fitur propaganda yang menonjol. Musik, terutama yang dapat menumbuhkan nasionalisme, dihidupkan di rumah-rumah sampai medan peperangan. “Kebanyakan rumah memiliki piano, dan setidaknya satu orang dari tiap-tiap keluarga tahu cara memainkannya, memberikan satu bentuk hiburan bersama dan sosialisasi,” tulis Welss.
Musik yang menyentuh semua sudut sosial kemudian menjadi sebuah media besar untuk penyampaian pesan. Menyadari kemampuan musik ini, pemerintah di negara-negara yang terlibat Perang Dunia I menggunakannya sebagai alat untuk menginspirasi warga, menumbuhkan kebanggaan, patriotisme, dan kesediaan warga untuk berjuang dengan negara, mendukung tanah air, serta menyumbang dana—yang pada saat itu banyak terserap untuk pembiayaan perang.
Lantas pemerintah di masing-masing negara pun berkoordinasi dengan perusahaan-perusahaan industri musik untuk memperbanyak produksi lagu-lagu properang, dan dilakukan segala macam upaya pula agar populasi membeli album-album musik seperti itu. Dua keuntungan didapat dari strategi ini: moral warga negara dan uang dari hasil penjualan yang dapat digunakan pula untuk pembiayaan perang.
Komponis, pencipta lagu, penyanyi, dan penerbit musik pun menjadi agen propaganda ketika itu. Setiap lirik lagu akan ditelaah dulu oleh negara. Kadang negara meminta adanya penajaman pada lirik. Penajaman yang tentu saja untuk keperluan politis, bukan berdasarkan pertimbangan artistik atau sastrawi. Misalnya, ada lagu yang khusus dibuat untuk menimbulkan “rasa malu pada mereka yang tidak mendukung perang”. Didukung pula oleh lagu-lagu yang liriknya merendahkan/mengejek lawan.
Jerman, misalnya, membuat lagu yang liriknya bercerita tentang ketakutan orang-orang di negara musuhnya; yang mana cara mereka melawan serangan Jerman adalah dengan melarikan diri atau bersembunyi di ruang bawah tanah.
Ini bentuk ejekan dalam perang. Tidak semua orang suka membaca. Dan tidak semua orang sempat membaca dalam situasi perang. Tapi mendengarkan musik masih sangat memungkinkan dilakukan orang banyak. Oleh karena itu, mereka yang jarang dan sukar terlibat dalam kegiatan membaca teks-teks politik propaganda akan dijangkau dengan musik.