Hidup tentu bukan sekedar hierarki piramida kebutuhan Maslow tetapi ada kekuatan dari dalam yang mengerakkan diri bentuk manifestasi sebagai makhluk khalifatul fil ardh.
Ketika hidup di susun dalam struktur waktu maka ada ruang privat bagi hati untuk selalu jadi manusia yang berpikir bahkan lebih jauh menjadi manusia yang ulul albab.
Semua ciptaan menjadi sebuah tanda, perlu hati agar kita tidak ingkar dan perlu akal untuk merumuskan hikmah yang dikandung.
Sebagai hamba, seringkali hidup menantang kita menjadi makhluk yang makin bijak dalam mensikapi hidup, namun berbagai pengalaman dan perjalanan butuh pengalihan untuk sesuatu yang menenangkan.
Sebuah contoh kecil saja, ketenangan yang kita dapatkan pada laut.
Meluangkan waktu bersama laut dan ombaknya, memberi pembelajaran bahwasanya kita selalu butuh tempat berlabuh atau bersandar dari lelahnya hidup, layaknya ombak yang selalu menghempas ke pantai.
Laut dan ombak menjadi simbol keaktifan bukan fasif, dimana ombak adalah permasalahan yang muncul dalam hidup dan kita dituntut punya kemampuan problem solving.
Laut dan ombak adalah kombinasi hebat dari proses gejolak unsur alam dari angin, matahari dan air, pasir dan karang serta senja dan dini hari. Demikian juga hidup kita yang selalu dihadapkan pada kemampuan memberdayakan semua resource yang kita miliki untuk mencapai tujuan.
Mari sekali kali membaca laut dan ombak sebagai sebuah bentuk "pelarian" hidup untuk mencari ketenangan.
Mencari hikmah penciptaan dari hal hal sederhana, adalah kebutuhan agar akal selalu sejalan dengan hati sehingga bisa menambah rasa syukur akan hidup.