Deru mesin tak pernah sekejap ada hening, Jalan Pasar Blangpidie selalu ramai para pelintas.
Kota Dagang melekat kuat sebagai sebutan untuk Blangpidie, Aceh Barat Daya.
Biarpun kota kecil namun Potensi Pasar dan Produk tersedia menarik minat pengunjung dari Kabupaten Tetangga baik Aceh Selatan maupun Nagan Raya.
Menuju jalan Pasar Baru, arah Pasar Tradisional berada sedikit kedalam dari Pusat Kota, beberapa kios siap menjajakan kebutuhan Dapur.
Ada penjual Produk Hiasan dan Souvenir bahkan Penjahit sepatu, tukang pangkas saling isi Lapak meramaikan pasar.
Masuk Lebih Kedalam, Warung Warung, Toko Mainan Anak, tempat penggilingan mie saling berkolaborasi.
Tidak ada yang berubah, penjual dan pembeli saling sapa, saling senyum, saat terjadi saling tawar sesekali terdengar canda dan tawa renyah dari pembeli karena retorika dan godaan dari penjual.
Dua perempuan muda, raut wajahnya sangat serius memilah milih jilbab baru, ada ragu dan sedikit bingung menentukan pilihan. Sementara di pojokan persimpangan alunan lagu Suloh sedang bersenandung, lumayan kencang suaranya.
Gambaran diatas tersaji menjelang siang saat Terik jalanan yang membakar membuatku betah menikmati segelas teh dingin di Warung "Timbang Rasa" Bang Wan.
Tidak ada yang berubah dari setahun lalu, Pasar tetap menyajikan adegan berulang dengan tokoh yang berbeda.
Yang perlu berubah hanya kita, Andaikata saat azan terdengar, serta merta pemilik toko dan kios bergegas membuat palang di pintu masuk dengan tempat duduk dan kayu sebagai simbolis tidak ada orang ditempat.
Tidak ada ketakutan maling atau pencurian, karena di sudut sudut pasar ada petugas negara yang berjaga jaga.
15 Menit Lengang, waktu Shalat telah tiba. Pembeli wanita yang tidak menunaikan kewajiban duduk setia di warung yang tersedia.
Meunasah di tengah pasar penuh sesak, Mereka antri berjamaah, bahkan banyak penjual memilih ke mesjid mesjid terdekat untuk menunaikan ibadah.
Blangpidie berbenah untuk berubah ke arah yang lebih baik, Perubahan penataan kota, perubahan kesadaran manusianya.
Menjadi manusia yang sadar akhirat tentu merubah kebiasaan dan budaya memakmurkan mesjid sehingga tidak punah dalam hasrat dunia yang selalu nampak indah di mata pencarinya.
Butiran Keringat adalah doa yang terjawab, Lalu kesejahteraan kemakmuran dari langit tercurahkan sebagai hasil dari kepatuhan dan tunduk pada aturan.
Senyum bahagia penduduk desa, berkat hasil tani melimpah, tangkapan nelayan tumpah ruah mengalir kepasar pasar pasar dan ekonomi bergerak seirama dengan kapasitas rukuk dan sujud para penghuni negerinya.
Aduhai, jika manusia berubah untuk kebaikan maka rahmat akan berlimpah limpah, Pasar menjadi berkah.
Para petugas badan zakat infaq dan sedekah sedikit kewalahan karena baitul mal penuh muatan barang yang harus disalurkan, mereka butuh tenaga tambahan untuk kemashalatan umat.
Saat itu, Takbir bersama imam diburu, pemimpin dipatuhi, Anak yatim dan orang terlantar di santuni lalu pengemis dan peminta minta menjadi malu sendiri.
Blangpidie, menjadi Baldatun thayibatun Warabbun Ghaffur (Subur dan makmur, adil dan aman).
Saat itulah makhluk bumi sendiri heran karena tidak ada lagi tangisan keprihatinan atas kurangnya beras dan tidak layaknya tempat berteduh.
Sementara di langit Malaikat Malaikat tersenyum, saban saat terdengar tangisan pengampunan dosa dan pujian terhadap penguasa langit dan bumi.
Amien, Insya Allah
Blangpidie, 05/04/18