Selamat menikmati hari bahagia Steemian...
Al-kisah tentang 4 orang pemuda petualang asal Aceh, hampir seluruh pelosok negeri sudah mereka tapaki, mulai dari Sabang hingga Merauke.
4 orang pemuda itu bernama: Omar, Nanta, Todak, dan Sitee.
Kisah ini bermula ketika mereka menjelajahi pulau Sabang, walaupun Sabang letaknya di Provinsi Aceh, namun mereka baru pertama kali menjelajahi Sabang. Bagi mereka menjelajahi pelosok Negeri orang lebih menyenangkan dari pada menjelajahi Negeri sendiri, karena menurut mereka Negeri sendiri kapan saja bisa dijelajahi tanpa harus ada persiapan panjang.
Tepat nya hari Rabu, pada pertengahan tahun 1990, Omar, Nanta, Todak, dan Sitee sudah berada di Sabang, sebagai petualang yang sudah menapaki Titik NOL Indonesia bagian Timur, maka tujuan mereka Kali ini adalah Titik NOL Indonesia bagian Barat, yaa.. Sabang lah lokasi nya, disana ada Tugu Kilometer NOL.
Kali ini langkah kali mereka menuju Tugu Kilometer NOL, di tengah perjalanan mereka bertemu dengan seorang lelaki tua yang sedang mendorong sepeda, akibat tanjakan menuju Kilometer Nol yang parah, sehingga memaksa lelaki tua itu mendorong sepedanya, seperti biasa naluri saling tolong menolong pemuda terhadap orang tua muncul, Omar menawarkan diri untuk mendorong sepeda lelaki tua yang belum diketahui namanya.
"Dari mana pak? Mau kemana bapak sendirian?" Nanta melontarkan kalimat pertanyaan untuk membuka pembicaraan.
"Dari Iboih nak, Saya mau ke atas sana, disana ada kebun pisang saya." (Iboih merupakan Desa terkahir yang memililiki pemukiman penduduk sebelum sampai Tugu Kilometer NOL).
Selanjutnya, Omar, Nanta, Todak, Sitee dan lelaki tua yang belakangan diketahui bernama Pak Teuku pun melanjutkan perjalanan dengan langkah yang melambat sembari sahut-menyahut larut dalam pembicaraan.
Pak Teuku adalah, penduduk asli Pulau Sabang, beliau lahir dan menua di pulau ini.
Tepat di persimpangan jalan, mereka harus beepisah dengan Pak Teuku, karena arah tujuan kebun pisang Pak Teuku berbelok ke kiri, sementara tujuan 4 Pemuda tadi adalah lurus menapaki tanjakan jalan didepan.
Namun, sebelum berpisah, karena sudah merasa akrab, Pak Teuku pun memberi pesan kepada mereka untuk hati-hati di jalan, sekaligus memberi tahu sumber air, dan dimana lokasi mendirikan tenda yang tepat di atas sana.
Ada satu pesan Pak Teuku yang aneh menurut mereka, yaitu:
"Jangan sekali-kali kalian menginjak Kodok di pulau Sabang ini".
Begitulah pesan Pak Teuku tidak main-main.
"Mengapa tidak boleh Pak?" Sitee bertanya heran.
"Karena setiap orang yang pernah menginjak Kodok Sabang, jangan harap akan mendapatkan jodoh yang cantik." Jawab Pak Teuku dengan penuh penekanan.
"Artinya, siapa saja yang sudah pernah memijak Kodok Sabang, maka dia akan mendapatkan jodoh yang Jelek"
Sembari berlalu dari mereka, pak Teuku mengingatkan kembali "Ingat itu ya! diatas sana banyak Kodok".
Antara percaya atau tidak, ke-4 Pemuda tadi melanjutkan perjalanan dengan penuh rasa penasaran dan ketakutan, dalam perjalanan menuju Tugu Kilometer NOL. Omar, Nanta, Todak, Sitee terus membicarakan tentang pasan aneh Pak Teuku tadi.
Tepat pukul 18.00 Wib, mereka sampai di tujuan, yaitu Tugu Kilometer NOL, mereka menikmati sore hari penuh bahagia, melihat Matahari Terbenam dari ujung barat Indonesia. Karena mereka sudah sering melakukan perjalanan ber-4, maka tidak harus ada yang mendikte lagi soal pembagian tugas, masing-masing sudah sangat paham, disaat Omar dan Todak mendirikan Tenda, maka Nanta akan memanaskan air untuk membuat kopi, sementara tanpa komando Sitee bergegas mencari kayu bakar sekaligus untuk api unggun malam nanti.
Pada saat Sitee mencari kayu bakar disemak belukar, tanpa kesengajaan Sitee memijak Kodok.
Sitee terkejut bukan main, dia langsung tebanyang wajah Pak Teuku ketika meberi pesan tadi, membayangkan akan mendapatkan jodoh yang Jelek, bagaimana untuk mengatasinya? apakan harus ada ritual khusus agar dosa memijak Kodok Sabang ini hilang darinya? begitu yang ada dalam kepala Sitee ketika itu.
Kemudian dengan langkah gontai sembari membawa 2 bilah kayu bakar sore itu, Sitee menghampiri Nanta yang sedang menuangkan bubuk kopi kedalam panci.
Sambil berbisik Site berkata pada Nanta, Pada saat aku mencari kayu di semak belukar itu, tanpa sengaja aku telah memijak kodok, mendengar kalimat demikian Nanta langsung berdiri dari tempat duduknya dan menatap Sitee dalam-dalam, menggelengkan kepala seakan-akan khawatir dengan apa yang dialami Sitee, dan tiba-tiba wajah Nanta beeubah sumbringah, Nanta tertawa terbahak-bahak, sambil memanggil Omar dah Todak agar ikut menertawakan Sitee.
Malam telah datang, makan malam sudah disajikan tepat didepan tenda dekat perapian, sedari tadi Sitee keliahatan murung, sementara Omar, Todak dan Nanta tidak habis-habisnya menertawakan Sitee, mengatakan bahwa nanti Istri Sitee akan yang paling jelek diantara istri mereka.
Makan malam selesai, saatnya untuk ngopi ditemani api unggun, plus kepuasan ejekan bertubi-tubi terhadap Sitee, itu merupakan kepuasan tiada batas menurut Omar, Nanta dan Todak.
Omar bangkit dari tempat duduk nya, dia mengambil sebuah wadah untuk menampung air dan pergi menuju sungai kecil berkisar 20 meter dibelakang tenda mereka, air sudah terisi penuh, saat nya untuk kembali, tak di duga tiba2 seekor Kodok hampir mati keuar dari ujung sendal sebelak kanan Omar, artinya tanpa disengaja Omar juga telah memijak kodok sama hal nya dengan Sitee.
Omar terkejut bukan main, dan dia langsung tebanyang wajah Pak Teuku ketika memberi pesan tadi, membayangkan akan mendapatkan jodoh yang tidak cantik, bagaimana untuk mengatasinya? apakan harus ada ritual khusus agar dosa memijak Kodok Sabang ini hilang darinya? begitu yang ada dalam kepala Omar ketika itu, dan yang pasti akan mendapatkan Olokan dari teman-teman.
Atas kejadian itu Omar menceritakan pada ketiga teman nya, mereka pun memperlalukan Omar sama hal nya Omar mempeelakukan Sitee.
Sitee yang tadinya murung, kembali bergairah, merasa punya teman senasib, dan dia pun tak henti-henti nya mengolok-olok Omar yang telah memijak Kodok.
Malam itu suasana penuh dengan saling ejek, Omar dan Sitee pasrah tanpa serangan balik, dikepala mereka hanya ada banyangan Pak Teuku yang sedang memberi pesan.
Malam sudah larut, mereka masuk tenda untuk tidur, Nanta yang sedari tadi tertawa terbahak-bahak saat mengolok-olok Omar dan Sitee, membuat dia sesak dan harus buang air kecil segera, sebelum tidur dia menuju ke samping, jauh sebelah kanan tenda untuk buang air kecil, sementar ketiga teman nya yang lain sudah masuk tenda terlebih dahulu.
Siapa sangka, ternyata apa yang dialami oleh Sitee dan Omar kini juga dialami oleh Nanta, yaa.. Nanta sudah memijak kodok sabang tanpa disengaja pada saat terburu-buru untuk buang air kecil.
Nanta terkejut bukan main, dan dia langsung terbanyang wajah Pak Teuku ketika memberi pesan tadi, membayangkan akan mendapatkan jodoh yang tidak cantik, bagaimana untuk mengatasinya? apakan harus ada ritual khusus agar dosa memijak Kodok Sabang ini hilang darinya? begitu yang ada dalam kepala Sitee ketika itu, dan tang pasti akan mendapatkan olokan dari teman-teman.
Dalam diam Nanta kembali ke tenda tanpa memberi tahu kejadian itu kepada teman-teman nya, sepanjang malam Nanta tak bisa tidur memikirkan ucapan dari Pak Teuku. Sementara teman nya yang lain tertidur sangat pulas sampai pagi menjemput.
Matahari pagi sudah menyambut mereka, mereka terbangun ketika matahari pagi memanasi plisitt tenda, artinya mereka tak sempat nikmati matahari terbit.
Pagi itu, Nanta terlihat lesu, masih memikirkan kejadian tadi malam, raut wajah nya tak bisa ditutupi pada teman-teman nya, sehingga terbongkar juga rahasia kejadian Nanta memijak seekor kodok, mengetahui kejadian itu sontak teman-taman nya yang masih belum begitu segar karena baru bangun tidur, tiba2 berserakan berhamburan untuk menertawakan Nanta.
Pertualangan di Pulau sabang pun berlanjut hingga mereka pulang kembali ke kampung halaman masing-masing.
Dari pertualangan mereka di Sabang hanya menyisakan Todak yang tidak menginjak Kodok Sabang selama berada disana.
Omar, Sitee dan Nanta sudah pasrah apabila nanti nya mereka akan mendapati jodoh yang Jelek.
Sementara Todak dengan berbahagia hati dan berbangga diri sangat yakin akan mendapat jodoh yang sangat cantik.
Bulan berlalu dan kalender pun terganti memasuki tahun selanjut nya, mereka sudah dengan kesibukan masing-masing namun masih tetap melakukan pertualangan-pertualangan ke daerah-daerah lain.
Tahun berikut nya mereka (Nanta, Todak dan Sitee) mendapat Undangan Pernikahan dari Omar, pada tanggal yang sudah ditentukan mereka bertiga menghadiri pernikahan Omar dengan membawa Kado yang besar, dan mereka bertiga terkejut melihat Istri Omar sembari langsung teringat dengan Ucapan Pak Teuku pada saat mereka menjelajahi pulau Sabang.
Setiap orang yang pernah menginjak Kodok Sabang, pasti akan mendapatkan jodoh yang jelek.
Ternyata ucapan Pak Teuku dahulu benar adanya, karena di hari bahagia itu mereka melihat Istri Omar yang Jelek.
Hal itu membuat perasaan Nanta dan Sitee berkecamuk, berbeda hal nya dengan Todak, ia terlihat santai dan bahagia.
Ditahun berikut nya setelah pernikahan Omar, mereka (Todak, Omar dan Nanta) mendapat Undangan Pernikahan dari Sitee, pada tanggal yang sudah ditentukan mereka bertiga menghadiri pernikahan Sitee dengan membawa Kado yang besar, dan mereka bertiga terkejut melihat Istri Sitee sembari langsung teringat dengan Ucapan Pak Teuku pada saat mereka menjelajahi pulau Sabang.
Lagi-lagi kejadian yang sama seperti pada saat menghadiri pernikahan Omar pun terjadi, mereka melihat istri Sitee tak kalah Jelek nya dengan Istri Omar.
Dasar Kodok Sabang Pembawa sial, Ucap Nanta secara spontan pada saat berlangasungnya pernikahan.
5 bulan kemudian Nanta juga melangsungkan pernihakan, dia menemukan hal yang sama, yaitu mendapati istri yang sama jelek nya dengan Istri Omar dan Sitee.
Lagi-lagi Ternyata ucapan Pak Teuku benar adanya. Bahwa siapa saja yang pernah menginjak Kodok Sabang maka akan mendapatkan Jodoh yang Jelek
Lalu, bagaimana dengan Nasib Todak?
Apakah todak akan mendapatkan jodoh yang cantik? Kapan Todak menikah?
Benar saja tak berselang lama dari pernikahan Nanta, Todak pun melangsungkan pernikahan, Todak mengundang teman-teman sepertualangan nya di hari bahagianya itu.
Pernikahan berlangsung Khitmat, resepsi pun dibuat besar-besaran bak pernikahan Rafi Ahmad dan Nagita Slafina.
Ketiga teman nya (Omar, Nanta dan Sitee) pun hadir dengan membawa istri mereka, betapa tercengang nya mereka ketika melihat istri Todak yang sangat cantik bak bidadari yang turun dari langit.
Kulit putih bersih, matanya biru, wajah tirus, rambut tergerai indah, alis terukir rapi, begitu sempurnanya mereka melihat istri Todak.
Dengan penuh penasaran, Omar pun mendatangi kedua mempelai dan memberi ucapan selamat, dan sedikit berbisik pada istri Todak ~
"Mengapa adek mau menikah dengan teman kami ini? tanya Omar pada istri Todak.
"Hmmm.. Tak ada pilihan lain bang, Ini mungkin akibat adek sudah pernah menginjak Kodok sabang dahulunya.
Begitu istri Todak menjaqab pertanyaan Omar.
Jawaban istri Todak itu membuat Omar tanpa sadar tertawa terbahak-bahak sembari memanggil kedua taman nya yang lain untuk menertawakan Todak.
"siapa saja yang sudah pernah memijak Kodok Sabang, maka dia akan mendapatkan jodoh yang Jelek"
Sekian, ini adalah Cerita Fiktif belaka.
Semoga pembaca menikmati, apabila ada kesamaan nama dan tempat itu hal yang disengaja.
https://goo.gl/images/w8tDTz