Tulisan ini kuangkat dari pengalaman pribadiku. Aku melihat dan terlibat langsung kejadian yang terjadi di toko tempatku berjualan pakaian perempuan.
Hari Raya Idul Fitri tinggal dua minggu lagi. Semua kalangan mulai sibuk mempersiapkan diri menyambutnya. Tradisi yang tidak terlepas dalam penyambutan lebaran adalah membeli baju baru. Namun nampaknya tradisi ini terlihat berat dijalankan oleh mereka yang kurang dari segi ekonomi.
Selama 10 Ramadan pertama kaum ibu-ibu lebih memilih membelikan baju untuk anak-anaknya. “Beli bajunya untuk anak-anak dulu, nanti baru ibunya,” ucap seorang ibu. Sementara ibu-ibu lainnya mengatakan bahwa lebaran itu untuk anak-anak. Mereka bisa membelinya kalau seluruh anak-anak sudah merasakan baju baru. “Ini uangnya baru cukup untuk adiknya, kakaknya belum ada, apalagi buat ibunya,” ujar ibu lainnya. Begitulah ungkapan sejumlah ibu saat kami menawarkan baju untuk dirinya.
Terkadang aku merasa sedih saat uang mereka tidak cukup membeli baju. Sedangkan kami sudah memberikan harga termurah. Mereka pun pergi dengan tangan hampa. Dari kejadian-kejadian di pasar menjelang lebaran cukup menggugah hati. Tidak sedikit dari mereka meminta harga pakaian termurah tanpa mementingkan kualitas dan model. Asalkan baju baru, itu sudah cukup bagi mereka.
Hari ini, ada kejadian yang cukup mengharukanku saat melihat seorang pengemis yang kaki kanannya buntung. Ia menghampiri toko kami.
“Nak, ada baju untuk dia?” tanya si pengemis. Di sampingnya berdiri seorang anak perempuan manis berusia sekitar 8 tahun.
“Ada, Bang. Ini ada beberapa baju gamis untuk dia,” ucapku sembari menunjukkan beberapa potong pakaian gamis yang kukira sesuai dengan anaknya.
“Itu harganya berapa?”
“140 ribu, Bang.”
“Kok mahal sekali?” tanyanya lagi. “Jangan lihat bajunya, lihat saja yang ini,”katanya lagi sambil menunjukkan kaki buntungnya. Padahal harga buka yang kusebutkan itu lebih rendah dari biasanya. Ia pun memintanya Rp 100 ribu. Karena sayang aku mengiyakan saja meskipun untungnya sangat tipis. Bila untuk orang lain, aku tidak bisa memberikan baju dengan harga semurah itu.
Nampak si pengemis (bertongkat) dan anaknya (menunduk) yang sudah memakai baju gamis kuning baru.
Si anak mencoba baju tanpa melepaskan baju sebelumnya. Ukurannya pas. Saking bangganya, si pengemis tidak ingin anaknya melepaskan baju itu. Ia ingin saudaranya melihatnya mampu membelikan anaknya baju baru gamis kuning lengkap dengan jilbabnya. Terkesan bahwa meskipun dirinya pengemis, sebagai sosok ayah ia mampu memberikan yang terbaik untuk anaknya. Tetapi aku meminta anaknya melepaskan satu baju yang ia kenakan di ruang ganti biar tidak berlapis yang menyebabkan gerah.
Si pengemis segera merogoh kantong celana. Ia mengeluarkan segopok uang. Nominalnya mulai dari Rp 2-5 ribu. Kemudian ia pulang dengan perasaan bangga.

Uang 2000-an yang dirogoh si pengemis.
Aku sudah mengenal sosok pengemis itu sejak aku masih anak-anak. Ketika dirinya masih muda dan kakinya masih ada, ia sering menjual balon. Ke mana pun pergi ia menggunakan sepeda. Katanya, kakinya bunting akibat mobil yang terbalik di jalan mengenai kakinya. Itulah yang menyebabkan kaki kanannya buntung. Sedangkan kaki kirinya dipasang besi. Kerap kali ia merasakan nyeri di dalamnya. Untuk berjalan saja sudah sulit.
Cerita di atas telah mengajarkan kita bersyukur masih memiliki orang tua. Merekalah yang mampu memberikan yang terbaik untuk kita. Mereka rela mengorbankan keinginannya demi buah hatinya. Sosok ayah mengajarkan kita bagaimana cara menghadapi segala rintangan hidup. Kita yang masih lengkap anggota tubuh seyogianya bersyukur kepada Allah dengan menggunakannya di jalan kebaikan. Kita tidak boleh menyakiti dan menghormati keterbatasan orang lain.
Bulan Ramadan merupakan waktu yang tepat bagi kita untuk berbagi. Marilah kita yang memiliki kelebihan harta ringan tangan menolong muslim lainnya.