Ini jembatan menuju pusat perkantoran Pemkab Pidie Jaya, Cot Trieng. Katanya, karena jembatannya melintangi sejumlah petak sawah. Maka, jadilah, namanya Jembatan Layang. Entah siapa yang kasih nama. Yang jelas bukan Bupati Pertama, apalagi Bupati sekarang.
Saat baru selesai dibangun, jembatan ini menjadi tempat favorit. Waktu sore khususnya, ramai anak-anak muda yang nongkrong atau sekadar berfoto, menghabiskan senja. Belakangan, terutama malam hari, jembatan ini juga menjadi tempat pacaran. Sejak dibangun bertahun-tahun silam era Bupati Gade Salam hingga masa Abua sekarang, lampu penerang di jembatan Jahannam ini tak kunjung juga dipasang.
Padahal Ayyub Abbas, Bupati yang katanya ahli ratib itu, hampir tiap hari melalui jembatan ini. Namun sepertinya ia tutup mata pada tiang yang kian berkarat dan lampu penerang yang tak kunjung dipasang. Menandakan nihilnya perhatian. Atau barangkali memang sengaja dibuat demikian, sengaja dibiarkan gelap, agar jadi tempat yang seronok untuk maksiat. Tgk Nazar Merdu murka ketika menceritakan, bahwa ia dan beberapa temannya pernah menemukan Kondom bekas pakai, Celana Dalam, hingga BH di bawah jembatan kantor Bupati ini. Padahal kondisi ini terjadi tepat di depan hidung Abua, di hadapan kantornya yang megah itu. Lantas, pembangunan macam apa yang dapat kita harapkan dari seorang Bupati, jika memasang lampu penerang di jembatan menuju kantornya saja agar tidak menjadi tempat zina, tidak ia gubris.